Tag Archives: wudlu

Cela’an para ulama terhadap sufi

3 Jun

1. Celaan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu terhadap shufiyah.

Shufiyah bukanlah pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Di antara buktinya adalah banyaknya celaan dari Al-Imam Asy-Syafi’i dan lainnya terhadap mereka. Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.” Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang shufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya.” Beliau juga berkata, “Azas (dasar shufiyah) adalah malas.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu hal. 13-15)

Beliau menamai shufiyah dengan kaum zindiq. Kata beliau rahimahullahu, “Kami tinggalkan Baghdad dalam keadaan orang-orang zindiq telah membuat-buat bid’ah yang mereka namakan sama’ (nyanyian sufi, red.).” Asy-Syaikh Jamil Zainu berkata, “Orang-orang zindiq yang dimaksud Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu adalah kaum shufiyah.” (Lihat Shufiyah fi Mizan Al-Kitabi was Sunnah)

2. Celaan Al-Imam Malik rahimahullahu terhadap shufiyah

At-Tunisi mengatakan: Kami berada di sisi Al-Imam Malik, sedangkan murid-murid beliau di sekelilingnya. Seorang dari Nashibiyin berkata: “Di tempat kami ada satu kelompok disebut shufiyah. Mereka banyak makan, kemudian membaca qashidah dan berjoget.” Al-Imam Malik berkata, “Apakah mereka anak-anak?” Orang tadi menjawab, “Bukan.” Beliau berkata, “Apakah mereka adalah orang-orang gila?” Orang tadi berkata, “Bukan, mereka adalah orang-orang tua yang berakal.” Al-Imam Malik berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang pemeluk Islam melakukan demikian.”

3. Celaan Al-Imam Ahmad rahimahullahu terhadap shufiyah

Beliau ditanya tentang apa yang dilakukan shufiyah berupa nasyid-nasyid dan qashidah yang mereka namakan sama’. Beliau berkata, “Itu adalah muhdats (perkara baru yang diada-adakan dalam Islam).” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah boleh kami duduk bersama mereka?” Beliau menjawab, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.” Beliau berkata tentang Harits Al-Muhasibi –dia adalah tokoh shufiyah–, “Aku tidak pernah mendengar pembicaraan tentang masalah hakikat sesuatu seperti yang diucapkannya. Namun aku tidak membolehkan engkau berteman dengannya.”

4. Celaan Al-Imam Abu Zur’ah rahimahullahu terhadap shufiyah

Al-Hafizh berkata dalam Tahdzib: Al-Bardza’i berkata, “Abu Zur’ah ditanya tentang Harits Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya. Beliau berkata kepada penanya, ‘Hati-hati kamu dari kitab-kitab ini, karena isinya kebid’ahan dan kesesatan. Engkau wajib berpegang dengan atsar, akan engkau dapati yang membuatmu tidak membutuhkan apapun dari kitab-kitabnya’.”

5. Celaan Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu terhadap shufiyah

Beliau berkata, “Aku telah menelaah keadaan shufiyah dan aku dapati kebanyakannya menyimpang dari syariat. Antara bodoh tentang syariat atau kebid’ahan dengan akal pikiran.”

6. Marwan bin Muhammad rahimahullahu berkata:

“Tiga golongan manusia yang tidak bisa dipercaya dalam masalah agama: shufi, qashash (tukang kisah), dan ahlul bid’ah yang membantah ahlul bid’ah lainnya.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah, hal.16-18)

Imam Syafi’i menamai shufiyah dengan kaum zindiq, beliau berkata :

“Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.” Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang shufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya.” Beliau juga berkata, “Azas (dasar shufiyah) adalah malas.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu hal. 13-15)

Iklan

Sufi dan karomah wali

3 Jun

Mengangkat tema tasawuf dan kaum Sufi terasa hampa dan kosong tanpa mencuatkan pemikiran mereka tentang wali dan demikian juga karamah. Pasalnya, mitos ataupun legenda lawas tentang wali dan karamah ini telah menjadi senjata andalan mereka didalam mengelabui kaum muslimin.

Lantas dalam gambaran kebanyakan orang, wali Allah adalah setiap orang yang bisa mengeluarkan keanehan dan mempertontonkannya sesuai permintaan. Selain itu, dia juga termasuk orang yang suka mengerjakan shalat lima waktu atau terlihat memiliki ilmu agama. Bagi siapa yang memililki ciri-ciri tersebut, maka akan mudah baginya untuk menyandang gelar wali Allah sekalipun dia melakukan kesyirikan dan kebid’ahan.

Wali menurut Al Qur’an dan As Sunnah

Adalah perkara yang lumrah bila kita mendengar kata-kata wali Allah. Di sisi lain, terkadang menjadi suatu yang asing bila disebut kata wali setan. Itulah yang sering kita jumpai di antara kaum muslimin. Bahkan sering menjadi sesuatu yang aneh bagi mereka kalau mendengar kata wali setan. Fakta ini menggambarkan betapa jauhnya persepsi saudara kita kaum muslimin dari pemahaman yang benar tentang hakikat wali Allah dan lawannya, yakni wali setan. Padahal Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa wali itu ada dua jenis yaitu: Wali Allah dan wali setan.

Allah berfirman :

أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

(artinya): “Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa.” (Yunus:62-63)

Dia berfirman tentang wali setan :

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

(artinya): “Sesungguhnya Mereka tidak lain adalah setan yang menakut-nakuti wali-walinya (kawan-kawannya), karena itu janganlah kalian takut kepada mereka jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran:175)

Dari kedua ayat ini jelaslah bahwa wali Allah itu adalah siapa saja yang beriman dan bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Sedangkan wali setan itu adalah lawan dari mereka.

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Wali-wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala tentang mereka, sehingga setiap orang yang bertakwa adalah wali-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/422). Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Wali Allah adalah orang yang berilmu tentang Allah dan dia terus-menerus diatas ketaatan kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.” (Fathul Bari 11/ 342).

Didalam ayat yang lainnya Allah menyatakan bahwa wali Allah itu tidak mesti ma’shum (terpelihara dari kesalahan). Dia berfirman :

لِيُكَفِّرَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي عَمِلُوا وَيَجْزِيَهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿۳٥﴾ أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

(artinya): “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, maka mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki disisi Rabb mereka. Itulah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Agar Allah akan mengampuni bagi mereka perbuatan paling buruk yang mereka kerjakan kemudian membalas mereka dengan ganjaran yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Az Zumar: 33-35)

Karamah menurut Al Qur’an dan As Sunnah

Demikian juga halnya, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya menerangkan bahwa karamah itu memang ada pada sebagian manusia yang bertakwa, baik di masa dahulu maupun di masa yang akan datang sampai hari kiamat.

Diantaranya apa yang Allah kisahkan tentang Maryam dalam surat Ali Imran 37 ataupun Ashhabul Kahfi dalam surat Al Kahfi dan kisah pemuda mukmin yang dibunuh Dajjal di akhir jaman (H.R. Al Bukhari no. 7132 dan Muslim no. 2938). Selain itu, kenyataan yang kita lihat ataupun dengar dari berita yang mutawaatir bahwa karamah itu memang terjadi di zaman kita ini.

Adapun definisi karamah itu sendiri adalah: kejadian diluar kebiasaan yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan (pemiliknya) sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa, bacaan, ataupun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karamah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. (Syarhu Ushulil I’tiqad 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin)

Apakah wali Allah itu memiliki atribut-atribut tertentu?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa wali-wali Allah itu tidak memiliki sesuatu yang membedakan mereka dengan manusia lainnya dari perkara-perkara dhahir yang hukumnya mubah seperti pakaian, potongan rambut atau kuku. Dan merekapun terkadang dijumpai sebagai ahli Al Qur’an, ilmu agama, jihad, pedagang, pengrajin atau para petani. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa 11/194)

Apakah wali Allah itu harus memiliki karamah? Lebih utama manakah antara wali yang memilikinya dengan yang tidak?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa tidak setiap wali itu harus memiliki karamah. Bahkan, wali Allah yang tidak memiliki karamah bisa jadi lebih utama daripada yang memilikinya. Oleh karena itu, karamah yang terjadi di kalangan para tabi’in itu lebih banyak daripada di kalangan para sahabat, padahal para sahabat lebih tinggi derajatnya daripada para tabi’in. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa 11/283)

Apakah setiap yang diluar kebiasaan dinamakan dengan ‘karamah’?

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Nashir Ar Rasyid rahimahullah memberi kesimpulan bahwa sesuatu yang di luar kebiasaan itu ada tiga macam:

1. Mu’jizat yang terjadi pada para rasul dan nabi

2. Karamah yang terjadi pada para wali Allah

3. Tipuan setan yang terjadi pada wali-wali setan

(Disarikan dari At Tanbihaatus Saniyyah hal. 312-313).

Sedangkan untuk mengetahui apakah itu karamah atau tipu daya setan tentu saja dengan kita mengenal sejauh mana keimanan dan ketakwaan pada masing-masing orang yang mendapatkannya (wali) tersebut. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Apabila kalian melihat seseorang berjalan diatas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.” (A’lamus Sunnah Al Manshurah hal. 193)

Wali dan Karamah menurut Kaum Sufi

Pandangan kaum Sufi tentang wali dan karamah sangatlah rancu, bahkan menyimpang dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Diantara pandangan mereka adalah sebagai berikut:

-Wali adalah gambaran tentang sosok yang telah menyatu dan melebur diri dengan Allah Ta’ala.

Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Al Manuufi (dedengkot Sufi) dalam kitabnya Jamharatul ‘Auliya’ 1/98-99 (lihat Firaq Mu’ashirah 2/ 699)

-Gelar wali merupakan pemberian dari Allah Ta’ala yang bisa diraih tanpa melakukan amalan (sebab), dan bisa diraih oleh seorang yang baik atau pelaku kemaksiatan sekalipun. (Lihat Firaq Mu’ashirah 2/701)

-Menurut Sufi, Wali memiliki kekhususan melebihi kekhususan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Diantara kekhususan tersebut adalah:

a. Mengetahui apa yang ada di hati manusia sebagaimana ucapan An-Nabhani tentang Muhammad Saifuddin Al Farutsi An Naqsyabandi.

b. Mampu menolak malaikat maut yang hendak mencabut nyawa atau mengembalikan nyawa seseorang. Hal ini diterangkan Muhammad Shadiq Al Qaadiri tentang Asy Syaikh Abdul Qadir Al Jailani.

c. Mampu berjalan di atas air dan terbang di udara. An Nabhani menceritakan hal itu tentang diri Muhammad As Sarwi yang dikenal dengan Ibnu Abil Hamaa’il.

d. Dapat menunaikan shalat lima waktu di Makkah padahal mereka ada di negeri yang sangat jauh. An Nabhani membela perbuatan wali-wali mereka tersebut.

e. Memiliki kesanggupan untuk memberi janin pada seorang ibu walaupun tidak ditakdirkan Allah Ta’ala. Sekali lagi kedustaan Muhammad Shadiq Al Qaadiri tentang Asy Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. (Dinukil dari buku-buku kaum Sufi melalui kitab Khashaa’ishul Mushthafa hal. 280-293).

Dan masih ada lagi keanehan-keanehan yang ada pada tokoh-tokoh atau wali-wali mereka. Subhanallah, semua itu adalah kedustaan yang nyata!! Sebelumnya Ibnu Arabi menyatakan kalau kedudukan wali itu lebih tinggi dari pada nabi. Didalam sebuah syairnya dia mengatakan:

“Kedudukan puncak kenabian berada pada suatu tingkatan

Sedikit dibawah wali dan diatas rasul “. (Lathaa’iful Asraar hal.49)

Demikian juga Abu Yazid Al Busthami berkata: “Kami telah mendalami suatu lautan, yang para nabi hanya mampu di tepi-tepinya saja.” (Firaq Mu’ashirah 2/698)

-Menurut Sufi, seorang wali tidak terikat dengan syariat Islam

Asy Sya’rani menyatakan bahwa Ad Dabbagh pernah berkata: “Pada salah satu tingkatan kewalian dapat dibayangkan seorang wali duduk bersama orang-orang yang sedang minum khamr (minuman keras), dan dia ikut juga minum bersama mereka. Orang-orang pasti menyangka ia seorang peminum khamr, namun sebenarnya ruhnya telah berubah bentuk dan menjelma seperti yang terlihat tersebut. (Ath Thabaqaatul Kubra 2/41)

-Seorang Wali Harus Ma’shum (Terjaga Dari Dosa)

Ibnu Arabi berkata: “Salah satu syarat menjadi imam kebatinan adalah harus ma’shum. Adapun imam dhahir (syariat-pen) tidak bisa mencapai derajat kema’shuman.” (Al Futuuhaat Al Makkiyah 3/183)

-Menurut Sufi, seorang wali harus ditaati secara mutlak

Al Ghazali berkata: “Apapun yang telah diinstruksikan syaikhnya dalam proses belajar mengajar maka hendaklah dia mengikutinya dan membuang pendapat pribadinya. Karena, kesalahan syaikhnya itu lebih baik daripada kebenaran yang ada pada dirinya.” (Ihya’ Ulumuddin 1/50)

-Menurut Sufi, perbuatan maksiat seorang Wali dianggap sebagai Karamah

Dalam menceritakan karamah Ali Wahisyi, Asy Sya’rany berkata: “Syaikh kami itu, bila sedang mengunjungi kami, dia tinggal di rumah seorang wanita tuna susila/pelacur.” (Ath Thabaqaatul Kubra 2/135)

-Menurut Sufi, karamah menjadikan seorang wali memiliki kema’shuman

Al Qusyairi berkata: “Salah satu fungsi karamah yang dimiliki oleh para wali agar selalu mendapat taufiq untuk berbuat taat dan ma’shum dari maksiat dan penyelisihan syari’at.” (Ar Risalah Al Qusyairiyah hal.150)

Para pembaca, dari bahasan diatas akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwasanya pengertian wali menurut kaum sufi sangatlah rancu dan menyimpang, karena dengan pengertian sufi tersebut siapa saja bisa menjadi wali, walaupun ia pelaku kesyirikan, bid’ah atau kemaksiatan. Ini jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur’an, As Sunnah dan fitrah yang suci.

Wallahu a’lam bishshawaab.

Hadits-hadits lemah dan palsu yang tersebar di kalangan ummat

Hadits Ubadah bin Shamit Radiyallahu ‘anhu :

الأَبْدَالُ في هَذِهِ الأُمَّةِ ثَلاَثُوْنَ …

“Wali Al Abdaal di umat ini ada 30 orang…”

Keterangan:

Asy Syaikh Al Albani rahimahullah banyak membawakan hadits tentang wali Al Abdaal didalam Silsilah Adh Dha’ifah hadits no. 936, 1392, 1474, 1475, 1476, 1477, 1478, 1479, 2993, 4341, 4779 dan 5248. Beliau mengatakan bahwa seluruh hadits tentang wali Al Abdaal adalah lemah, tidak ada satupun yang shahih. (Lihat pembahasan ini lebih detailnya didalam Majmu’ Fatawa 11/433-444)

(Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 551/IV/II/1426, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli “Tasawuf & Wali”. Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun via email.)

sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=949
Judul asli: Membongkar Kedok Sufi : Tasawuf & Wali

Ilmu kebatinan

31 Mei

Sufiyah (merupakan kelompok beraliran tasawwuf) terkadang berani memalsukan hadits atas nama Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- demi menguatkan ajaran mereka dan menipu orang awwam. Di antara hadits-hadits yang mereka palsukan:

عِلْمُ الْبَاطِنِ سِرٌّ مِنْ‏‎ ‎اَسِرَارِاللهِ عَزَّوَجَلَّ‏‎ ‎وَحُكْمٌ مِنْ اَحْكَامِ اللهِ‏‎ ‎يُقْذِفُهُ فِيْ قُلُوْبِ مَنْ‏‎ ‎يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

“Ilmu batin adalah rahasia di antara rahasia-rahasia Allah dan hukum di antara hukum-hukum Allah, Allah melemparkannya ke dalam hati orang yang dikehendaki-Nya dari kalangan hamba-hamba-Nya.” [HR. Ad-Dailamy dalam Al-Firdaus (3/290 –Az-Zuhar)]

Hadits ini palsu karena orang-orang yang meriwayatkannya tidak dikenal (majhul), terlebih lagi hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ad-Dailamy. Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- menghukumi hadits ini palsu dalam Dho’if Al-Jami’ (3724).

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 8 Tahun I.

Lihat: http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/ilmu-batin.html

Beberapa pokok kesesatan ajaran sufi

31 Mei

Sesungguhnya Ahli bid’ah telah meletakkan beberapa pokok ajarannya sejak awal perkembangannya. Oleh karena itu seseorang tidak akan mengerti hakikat tasawuf kecuali setelah melihat beberapa pokok ajarannya, maka, dalam tulisan ini cukuplah menyebutkan beberapa pokok ajarannya. Dan itulah yang terpenting !.
Maksudnya tulisan ini setidaknya bisa mengingatkan kepada umat Islam agar berhati-hati dan tidak terjerat oleh jarinngan bid’ah mereka. Sebab saaat ini para Da’I (pendakwah) Sufi ( tarekat) tengah gencar-gencarnya menyebarkan bid’ahnya. Dan tidak sedikit dari kalangan muslimin yang masih bodoh-belum tahu hakekat kesesatan sufi-yang terpedaya dengan bualan mereka.
Beberapa pokok ajaran tasawuf diantaranya:

1.      Thariqoh

Yang dimaksud adalah hubungan murid (seseorang yang berkehendak untuk sampai kepada Alloh dengan jalan dzikir dan memelihara dzikir tersebut) dengan syaikh (guru)nya. Baik Syaikh tersebut masih hidup maupun mati. Caranya, dzikir waktu pagi dan petang hari sesuai dengan izin sang Syaikh-nya tersebut. Ini harus dilakukan secara Iltizam (konsisiten) berdasarkan perjanjiannya. Dalam perjanjiannya, Syaiakh menyelamatkan sang murid dari segala petaka dan mengeluarkan dari segala macam cobaan. Sang Syaikh  mendoakan melalui istghotsah kepadaNya, serta ia akan memberi syafaat pada hari kiamat dengan memasukkannya ke surga. Sedangkan bagi sang murid, hendaknya ia Iltiam selama hidupnya dengan wirid beserta adabnya, seperti halnya ia harus senantiasa iltizam terhadap amalan-amalan tarekat dan tidak boleh beralih kepada tarekat lainnya.

2.      Syaikh pemberi izin wirid

Dari beberapa pokok tarekat sufi, yakni mementingkan keberadaan syaikh atau yang mewakilinya) yang memberikan bacaan wirid bagi muridnya. Keberadaan Syaikh merupakan salah satu wahana untuk menjaring muslim awam dan orang-orang bodoh dari kalangan mereka sendiri, Dengan demikian mereka bisa diperdaya guna kepentingan syaikhnya. Selain itu mereka menjadi ‘tersihir’ untuk mencurahkan semua potensi harta dan fisiknya bagi syaikh atau yang mewakilinya.

Sesungguhnya keberadaan syaikh itu, menurut syariat bisa dibenarkan.melalui Syaikh (yang memiliki ilmu dan tahu jalan menuju Alloh) itulah yang bisa diambil ilmunya dan mencontohnya. Hingga terbentuklah kesempurnaan jiwa lantaran bimbingannya dalam Islam, yang demikian ini adalah perkara yang terpuji dan dituntunkan syar’i. Karena tidaklah mungkin seseorang tahu tentang Alloh, tentang apa yang dicintai dan dibenciNya, dan mengetahui bagaimana cara beribadah serta mendekatkan diri kepadaNya, Hal ini akan terlaksana secara baik jika seorang menjadi murid seorang Syaikh yang alim dan berilmu. mau belajar kepadanya dan dididik dibawah pengawasan syaikh tersebut.

Suatu kesalahan, yakni jika belajar kepada syaikh yang memberi syarat dengan wirid dan amalan-amalan tarekat, apalagi syaikhnya tersebut adalah seorang yang bodoh ( dalam ilmu agama-red) bahkan bisa jadi buta huruf !!. Hal ini nyata adanya di masyarakat kita. Sebab, banyak diantara syaikh kalangan sufi tarekat ternyata mereka adalah buta huruf. Kalaupun mereka mengetahui suatu maka hanyalah sebatas rukun Islam seperti shalat !!!. Dalam kalangan tarekat, seorang syaikh berwenang memberikan wirid/amalan hanya sebatas wirid dan amalan yang ia miliki. Dan itu pun diberikan kepada muridnya setelah muridnya berkhidmat kepadanya dalam suatu proses yang panjang. Setelah itu sang murid diberi gelar syaikh dan diberi hak izin untuk memberikan wirid yang telah diterimannya kepada orang lain.

Itulah sisitem pewarisan ilmu mereka. Ironisnya, mereka justru menyatakan batil terhadap orang yang memakai sanad dalam periwayatan hadits yang sampai kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , yakni sebagaimana lazimnya digunakan oleh pada ahli hadits. Bahkan, ada dari kalangan tarekat yang berceloteh, bahwa tidak perlu menggunakan silsilah sanad (dalam hadits-red) karena aib bagi mereka, sebab bagi kalangan tarekat mereka memakai metode langsung dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dalam keadaa terjaga bukan dalam keadaan tidur apalagi bermimpi, sebagaimana perkataan Ahmad At Tijani (pendiri tarekat tijaniyah) dalam Jawahiru Al Ma’ani (hal 97) dia berkata,” adapun sanad dalam tarekat muhammadiyah (maksudnya at-Tijaniyah) bahwasannya Ia mengabariku:.” Sesungguhnya kami telah mengabari dari para syaikh tapi Allah belum menakdirkan dari mereka apa yang kami kehendaki. Namun sunggup sayyid kami, ustadz kami dalam hal ini adalah sayyidul wujud (penghulu segala yang ada) yakni nabi Sholallahu laihi Wassalam, Dan Alloh telah menakdirkan dibukannya kepada kami dan sampainya kami kepada Belaiu Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam . Serta kami pun tidak akan berpaling kepada selainya kepada masyaikh lainnya. Adapun dalam hal keutamaan pengikutnya (yakni pengikut tarekat Tijaniyah), Sayyidul Wujud (tang dimaksud adalah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam) telah berkata barangsiapa mencintainya (yakni mencintai ahmad bin Muhammad At Tijani), maka ia termasuk Kekasih Nabi, Dan tidaklah ia akan mati, kecuali setelah benar-benar menjadi seorang wali.”

Dan yang lebih mengherankan lagi dalam dunia tarekat, mensyaratkan bagi syaikh yang menjadi murabbi yang memiliki kewenangan khusus harus memiiliki sifat sempurna. Padahal yang demikian tidak mungkin dimiliki sekalipun oleh sebagian para nabi. Berdasarkan persyaratan semacam ini, mereka menetapkan bagi pemimpin-pemimpin tarekat untuk memberi wirid dan mengarahkan. Dan sungguh, tidak ada sama sekali pada mereka sifat-sifat sempurna wlaupun hanya sepersepuluh atau bahkan seperseratusnya. Sehubungan dengan hal itu, perlu dinukil kementar At Tijani, Jawahiru Al Ma’ani Juz II hal 185,” Adapun hakekat Syiakh washil (syaikh yang berperan sebagai penghubung), yaitu telah berhasil menyingkap semua hijab (penghalang) secara sempurna guna melihat keberadaan tuhan dengan mata kepadalnya sendiri, dan benar-benar atas dasar keyakinan. Tingkatan demikian diawali dengan muhadharah (menghadirkan sang syaikh), yakni dengan cara menelaah dari balik tabir tebal tentang hakekat yang ada, Berikutnya mukasyafah yakni menelaah hakekat dari tabir tipis. Kemudian Musyahadah, yaitu melihat hakekat dengan tanpa tabir penghalang, yang ini tentunya dengan kekhususan. Bila telah demikian artinya seseorang telah mencapai kedudukan  yang paling tinggi, yakni kedudukan yang membatalkan dan menghapuskan (syariat), serta telah mencapai proses melebur dan menyatu (fana’ Al fana’). Tidaklah mencapai derajat ini kecuali dengan pertolongan Al Haq didalam AL Haq dan dengan Al Haq. Maka tidaklah tersisa sesuatu kecuali Alloh dan (menyatu) dengan-Nya. Maka tahapan ini tidak ada lagi istilah yang dihubungi atau yang menghubungi.” Sampai ucapannya,” maka, inilah syaikh yang patut dimintai. Bila seorang murid melihat rahasia sifat seperti ini, maka lazim baginya untuk menyerahkan diri kehadapan sang syaikh sepertimayit dihadapan yang memandikannya. Dia tidak memiliki hak memilih, berkemauan, meberi dan berfaedah. Oleh karena itu bila diisyaratkan kepadanya suatu amalan atau suatu perkara maka jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan, kenapa, bagaimana, bukankah, untuk apa. Karena pertanyaan itu membuka pintu kebencian dan pengusiran.”

3.      Perjanjian atau Baiat, jabat Tangan, dan Talqin

Termasuk pokok ajaran tasawuf adalah ikrar janji setia (baiat) seorang murid kepada sang syaikh tarekat, atau yang mewakilinya. Baiat itu meliputi ksanggupan untuk iltizam (konsisten) dalam mengamalkan wirid, ketaatan, dan cinta. Selain itu, dibaiat pula untuk iltizam dengan kelompok tarekatnya serta tidak boleh beralih ke kelompok tarekat lainnya sampai mati. Pelaksanaan baiat itu dengan cara meletakkan tangan diatas tangan syaikh sambil mengenggamkan jari jemarinya diatas jari sang syaikh, seraya memejamkan mata. Kemudian sang syaikh menuntunkan kata-kata,” Sya berjanji utuk beriltizam berwirid dengan syarat-syarat…” kemudian sang syaikh memebrikan wirid. Dengan amalan tqlid ini mereka membuat kata-kata perjanjian, baiat, berjabat tangan dan talqin.

Sesungguhnya baiat adalah sesuatu yang disyariatkan, yakni sebagaimana Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam pernah membaiat para Shohabat rodliallohu anhum . Adapun baiat yang dilakukan kepada imam adalah bid’ah, seperti kelompok tarekat dan kelompok sempalan lainnya, diadakan guna menjaring kaum muslimin awam dan orang-orang yang bodoh dangkal ilmu agamanya. Dengan baiat ini, dimaksudkan agar bisa memberikan bekas (atsar) pada jiwa mereka (yang akan bergabung dengan kelompoknya). Hingga mereka bisa dikendalikan/diatur  dan mentaati hukum dan aturan sang syaikh, inilah hakekat baiat orang tasawuf taarekat.

Adapun talqin yang dilakukan dengan memejamkan mata seraya mengenggam jari merupakan perbuatan bid’ah. Talqin dilakukan semata penipuan belaka. Dengan talqin seakan-akan adalah hal ritual keagamaan yang khusus. Hingga semakin sempurnalah penanaman atsar (pengaruh) kepada jiwa orng-orang awam agar mereka terjerat dalam jaringan sesat mereka. Dengan cara itu,mereka bisa menguasainya dengan mengatasnamakan syaikh, baiat, dan tarekat. Sepertinya wirid yang disyariatkan sang syaikh, maka baiat, talqin, dan ritual tarekat lainnya dalah bid’ah.

4.      Wirid Sufi (antara Haq dan Batil)

Wirid yang dimaksud, seorang Muslim mengamalkan ibdah sunnah dan berjanji utnuk mengamalkannya selama hidupnya.
Wirid bagi pengikut tarekat, baik berupa dzikir atau doa yang diberikan oleh syiakh (atau orang yang diberi wewenang) atau orang yang mewakilinya, diberikan kepada murid agar bersih batinnya dan bisa sampai ke derajat mukasyafah, musyahadah dan fana’ dalam dzat Allah [sehingga tidak ada sebutan ’Penyambung’ dan ‘yang disambung’ atau washil dan maushul. Lantaran hamba dan Allah telah menyatu.
Dalam doa yang diajarkan kaum tarekat tidak lepas dari kata-kata syirik, kufur, bid’ah sepereti tawassul dengan orang yang telah mati, beristighotsah kepada mayit dan berdoa kepada selain Alloh.

Dzikir mereka ada yang haq disyariatkan Islam), seperti kalimah thayyibah la ilaha illallah) mereka namakan sebagai zikir umum, dan ada pula dzikir yang tidak disyariatkan Islam, hanya karangan orang pengikut tarekat seperti lafadz alla, Allah yang diucapkan berulang kali dengan jumlah tertentu, atau melafalkan kata hayyun, hayyun dan semisalnya. Mereke namakan sebagai dzikir khusus (masing-masing tarekat memiliki dzikir khusus sendiri-sendiri) bahkan ada yang mengucapkan huwa,huwa (Dia, Dia) yang mereka namakan dzikir khusus yang paling khusus (khos Al Khos).

Perhatikanlah !! bagaimana mereka membagikan dzikir menjadi dzikir umum, dizikir khusus dan dzikir paling khusus. Kita berlindung kepada Alloh Azza wa Jalla kadi kesesatan nyata dan kita berlepas diri dari kebohongan yang jelas.

5.      Khalwah

Khalwah, bila seorang menyendiri (menjauhi keramaian manusia), menurut istilah tarekat sufi khlawah berarti menyendirinya seorang murid, dengan izin syaikhnya dan dibawah pengawasan dan bimbingannya ditempat-temat tertentu (missal dilubang yang digali dalam tanah atau ditempat masuk antara pintu dan tengah rumah (dilhiz) selama kurangd ari sepuluh malam dan tidak lebih dari empat puluh malam) Mereka berdalil dengan tahanuts-nya Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam di Goa Hira’ sebelum diutus sebagai Rosul Alloh.

Adapun masa sepuh malam, mereka berdalil berdasar masa iktikaf Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam di bulan Ramadhan. Sedang yang menjadi dalil mereka untuk khalwah selama empat puluh malam adalah berdasar masa janji Alloh kepada nabi Musa Alaihi Sallam, ‘ Dan ingatlah, ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sesembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang dzalim.” [QS baqoroh 51].

Diantara kebd’ahan khalwah tarekat sufiyah, diantaranya :

Pelaksanaannya di tempat gelap, berapa banyak murid dan pengikut tarekat setelah berkhalwah menjadi tidak beres ucapan, amalan, pikirannya seperti orang gila
Selama kholwah, senantiasa diam, padahal yang semacam ini telah dilarang oleh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam berdasar hadits  tentang peristiwa Abu Israil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori, bahwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam melihat seorang lelaki berdiri dibawah terik matahari, kemudian Beliau menanyakan kepada para Sahabat,” Sedang apa ini ?” Para Sahabat menjawab,” Abu Israil tengah melaksanakan nadzar. Ia (abu Israil) akan berdiri dibawah terik matahari (berjemur) dan tidak mau berteduh, tidak mau berbicara, serta berpuasa.” Maka Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam memerintahkan padanya untuk duduk, berteduh, berbicara  dan tetap (menyempurnakan) puasanya.

Pelaksanaan Khalwah jauh dari indra manusia, dan suara manusias sangat menyakitkan mereka, sehingga menjadikan mereka membuat lubang dengan menggali tanah, dengan suanana yang gelap, dan inilah bid’ah yang munkar.

Seorang murid tidka boleh memikirkan apapun ketika berkhalwah, baik memikirkan makna ayat Al Qur’an atau Sunnah, sebab yang demikian bisa mengganggu wirid haqiqi yang memerlukan dzikir dan khalwah. Ini adalah persyaratan yang rusak dan bathil karena syariat Islam tidak menetapkannya.

Seorang murid tidak dibolehkan masuk atau keluar khalwah, kecuali dengan idzin Syaikh murobbi, Sedangkan apabila berhadapan dengan Syaikhnya hendaklah bersikap seperti mayit saat dimandikan. Tidak berpendapat, berinisiatif, atau membantah. Inliah bentuk pemasungan terhadap nilai kemanusiaan seorang muslim.
Senantiasa ada keterkaitan hati kepada Syaikh dengan disertai I’tiqod.

6.      Kasyaf (Kontemplasi)

Hakekat kasyaf ialah terbukanya hati dari cahaya ghaib pada seorang sufi lantaran telah mencapai tingkat ma’rifat. Yang demikian tidak bisa diterima dengan akal, tetapi hanya bisa diterima  hati. Dibalik martabat kasyaf ada martabat lain yakni at-tajalla yaitu nampaknya dzat ilahiah di mata wujud yang dzahir.

Sesungguhnya proses kasyaf dan at-tajalla akan berujung pada hulul dan wihdah al wujud (proses bersatunya hamba dengan Allah), setelah menyatu pada sisi orang yang bersangkutan maka lantas ia mengaku sebagai Tuhan secara mutlak, wal ‘iyadzu billahi.

7.      Al fana’

Inti ajaran fana’ senantiasa memperbanyak dzikir hingga mencapai ketentraman hati yang terdalam, mereka berhujjah degan ayat,” katakanlah dengan dzikir kepada Allah hati akan tentram  [QS ar Ra’du 28].

Dzikir yang dilakukannya hingga tertimpa lalai dengan dunia dan kemudian mabuk dengan yang dicintainya. Kemudian, fana’ dari alam, artinya ia tidak melihat sesuatu. Dan berikutnya ia mencapai derajat  fana’ dari al fana’. Dalam batas demikian, ia telah berhasil mencapai tingkat pembatal atau penghapus syariat. Tahap ini menjadikan hancurnya semua gambar dan bayangan,d an hapusnya semua pengaruh. Maka tidaklah tersisa kecuali haq dalam Haq untuk Haq dan dengan Haq. Mereka mendefinisikan fana’ ialah habis dan menjadi rusaklah alam besama wujudnya. Dalam pandangan mereka, bahwasanya ia sirna dari nisbah perbuatan atasnya. Atau, jadilah ia wali dengan sendirinya dan dia ia tidak saksikan kecuali dalam alam ini kecuali hanya Allah saja. Hal ini seperti diibaratkan seseorang tidak bisa melihat bintang di siang hari lantaran telah terbitnya matahari.

Adapun lalai hilang diri, mabuk, fana’, fana’ al fana’, pembatal/penghapus syariat semuanya adalah awal kebohongan, kerusakan, dan kebatilan. Hingga hal tersebut menhasilkan sesuatu yang rusak dan jahat yakni hulul, wihdah al wujud. Dikatakannya, apabila seorang murid telah mencapai derajat ini, maka tidak ada yang ia saksikan kecuali hanyalah Allah. Maka jadilah semua alam ini Allah- menurut prasangka mereka. Semoga Allah menghancurkan mereka dan melaknatnya. Kenap mereka buta dengan firman Alloh Azza wa Jalla ,” Tidaklah ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi maha Melihat.”[QS Asy Syuro 11], dan firman-Nya,” Katakanlah :’Dialah Allah, Yang Maha Esa.” [QS Al Ikhlas 1], dan firmanNya,” Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” [QS Al Ikhlas 4].

8.      Zhahir dan Batin, Syari’at dan Hakekat

Diantara kebid’ahan sufi yakni adanya pembagian ilmu menjadi zhahir dan batin, dan pembagian agama menjadi syari’at dan hakekat. Mereka menisbatkan bahwa Islam adalah tarekat (jalan,cara), Sedangkan tarekat hanyalah washilah (sarana), dan buahnya adalah hakekat. Inilah kesesatan Sufi mereka membagi-bagi Islam sesuai hawa nafsu mereka diatas kebodohan. Mereka buta terhadap sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,” Hendaklah kalian berhati-hati dengan sesuatu yang baru. Maka sesungguhnya sesuatu  yang baru (dalam agama) adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat, dan kesesatan pasti di neraka.” {HR Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, Shahih Jami’ Ash-Shagir no 2549). Dan Sabda belia,” Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan kami (yakni Islam), padahal hal itu tidak pernah kami perintahkan, maka hal itu pasti tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih, Shahih Jami’ Ash Shagir 5970).

wallahu ta’ala ‘alam

Diterjemahkan dan ringkas dari Ila Tashawwuf Ya ‘Ibadallah, oleh : Syaikh Abubakar jabir Al Jazairi.dilarang mengkopi kecuali menyertakan www.al-aisar.com sebagai sumbernya

Imam Syafi’i membenci al ma’tam

6 Mei

Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata :

. . dan aku membenci al- ma’tam , yaitu berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan , karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambah nya kesedihan dan membutuhkan biaya , padahal beban kesedihan masih melekat . (al-Umm juz I,hal 279)

Ibnu Taimiyah ketika menjawab pertanyaan tentang hukum dari al-Ma’tam : “ Tidak diterima keterangan mengenai perbuatan tersebut apakah itu hadits shahih dari Nabi , tidak pula dari sahabat-sahabatnya , dan tidak ada seorangpun dari imam-imam muslimin serta dari imam madzhab yang empat (Imam Hanafy, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Ahmad) juga dari imam-imam yang lainnya , demikian pula tidak terdapat keterangan dari ahli kitab yang dapat dipakai pegangan, tidak pula dari Nabi, sahabat, tabi’ien, baik shahih maupun dlaif, serta tidak terdapat baik dalam kitab-kitab shahih, sunan-sunan ataupun musnad- musnad, serta tidak diketahui pula satupun dalam hadits- hadits dari zaman nabi dan sahabat .

Fatwa Imam Syafi’i tentang kenduri arwah, tahlilan, yasinan dan selamatan

6 Mei

Oleh : ustadz Rasul dahri

Majlis kenduri arwah lebih dikenali dengan berkumpul beramai-ramai dengan hidangan jamuan (makanan) di rumah si Mati. Kebiasaannya diadakan sama ada pada hari kematian, dihari kedua, ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, setahun dan lebih dari itu bagi mereka yang fanatik kepada kepercayaan ini atau kepada si Mati. Malangnya mereka yang mengerjakan perbuatan ini tidak menyedari bahawa terdapat banyak fatwa-fatwa dari Imam Syafie rahimahullah dan para ulama besar dari kalangan yang bermazhab Syafie telah mengharamkan dan membid’ahkan perbuatan atau amalan yang menjadi tajuk perbincangan dalam tulisan ini.
Di dalam kitab ( اعان ة الط البین ) juz 2. hlm. 146, tercatat pengharaman Imam Syafie rahimahullah tentang perkara yang disebutkan di atas sebagaimana ketegasan beliau dalam fatwanya:

وَیَكْرَهُ اتِّخَاذُ الطَّعَامِ فِى الْیَوْمِ اْلاَوَّلِ وَالثَّالِث وَبَعْدَ اْلاُسْبُوْعِ وَنَقْلُ الطَّعَامِ اِلَى الْقُبُوْرِ

“Dan dilarang (ditegah/makruh) menyediakan makanan pada hari pertama kematian, hari ketiga dan seterusnnya sesudah seminggu. Dilarang juga membawa makanan ke kuburan”.

Imam Syafie dan jumhur ulama-ulama besar ( ائم ة العلم اء الش افع یة ) yang berpegang kepada mazhab Syafie, dengan berlandaskan kepada hadis-hadis sahih, mereka memfatwakan bahawa yang sewajarnya menyediakan makanan untuk keluarga si Mati adalah jiran, kerabat si Mati atau orang yang datang menziarahi mayat, bukan keluarga (ahli si Mati) sebagaimana fatwa Imam Syafie :

وَاُحِبُّ لِجِیْرَانِ الْمَیِّتِ اَوْذِيْ قَرَابَتِھِ اَنْ یَعْمَلُوْا لاَھْلِ الْمَیِّتِ فِىْ یَوْمِ یَمُوْتُ وَلَیْلَتِھِ طَعَامًا مَا
یُشْبِعُھُمْ وَاِنَّ ذَلِكَ سُنَّةٌ.

“Aku suka kalau jiran si Mati atau saudara mara si Mati menyediakan makanan untuk keluarga si Mati pada hari kematian dan malamnya sehingga mengenyangkan mereka. Sesungguhnya itulah amalan yang sunnah”.

Fatwa Imam Syafie di atas ini adalah berdasarkan hadis sahih:

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنِ جَعْفَرَ : لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرِ حِیْنَ قُتِلَ قَ الَ النَّبِ ي صَ لَّى اللهُ عَلَیْ ھِ وَسَ لَّم :
اِصْنَعُوْا لآلِ جَعْفَرِ طَعَامًا فَقَدْ اَتَاھُمْ مَایُشْغِلُھُمْ . (حسنھ الترمزى وصححھ الحاكم)

“Abdullah bin Ja’far berkata: Ketika tersebar tentang berita terbunuhnya Ja’far, Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Hendaklah kamu menyediakan makanan untuk keluarga Ja’far, mereka telah ditimpa keadaan yang menyebukkan (kesusahan)”. [1]

Menurut fatwa Imam Syafie, adalah haram mengadakan kenduri arwah dengan menikmati hidangan di rumah si Mati, terutama jika si Mati termasuk keluarga yang miskin, menanggung beban hutang, meninggalkan anak-anak yatim yang masih kecil dan waris si mati mempunyai tanggungan perbelanjaan yang besar dan ramai. Tentunya tidak dipertikaikan bahawa makan harta anak-anak yatim hukumnya haram. Telah dinyatakan juga di dalam kitab ( اعانة الطالبین ) jld. 2. hlm. 146:

وَقَالَ اَیْضًأ : وَیَكْ رَهُ الضِّ یَافَةُ مِ نَ الطَّعَ امِ مِ نْ اَھْ لِ الْمَیِّ تِ لاَنَّ ھُ شَ رَعَ فِ ى السُّ رُوْرِ وَھِ يَ
بِدْعَةٌ

“Imam Syafie berkata lagi: Dibenci bertetamu dengan persiapan makanan yang disediakan oleh ahli si Mati kerana ia adalah sesuatu yang keji dan ia adalah bid’ah”.

Seterusnya di dalam kitab ( اعان ة الط البین ) juz. 2. hlm. 146 – 147, Imam Syafie rahimahullah berfatwa lagi:

وِمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الْمَكْرُوْهِ فَعْلُھُ مَا یَفْعَلُ النَّاسُ مِنَ الْوَحْشَةِ وَالْجَمْعِ وَاْلاَرْبِعِیْنَ بَ لْ كَ لُّ
ذَلِكَ حَرَامٌ

“Dan antara bid’ah yang mungkar ialah kebiasaan orang yang melahirkan rasa kesedihannya sambil berkumpul beramai-ramai melalui upacara (kenduri arwah) dihari keempat puluh (empat pulu harinya) pada hal semuanya ini adalah haram”.

1 H/R Asy-Syafie (I/317), Abu Dawud, Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad I/205. Dihasankan oleh at-Turmizi dan di sahihkan oleh al-Hakim.

Ini bermakna mengadakan kenduri arwah (termasuk tahlilan dan yasinan beramairamai) dihari pertama kematian, dihari ketiga, dihari ketujuh, dihari keempat puluh, dihari keseratus, setelah setahun kematian dan dihari-hari seterusnya sebagaimana yang diamalkan oleh masyarakat Islam sekarang adalah perbuatan haram dan bid’ah menurut fatwa Imam Syafie. Oleh itu, mereka yang mendakwa bermazhab Syafie sewajarnya menghentikan perbuatan yang haram dan bid’ah ini sebagai mematuhi wasiat imam yang agung ini.

Seterusnya terdapat dalam kitab yang sama a ( اعانة الط البین ) juz 2. hlm. 145-146, Mufti yang bermazhab Syafie al-Allamah Ahmad Zaini bin Dahlan rahimahullah menukil fatwa Imam Syafie yang menghukum bid’ah dan mengharamkan kenduri arwah:

وَلاَ شَكَّ اَنَّ مَنْعَ النَّاسِ مِنْ ھَذِهِ الْبِدْعَةِ الْمُنْكَ رَةِ فِیْ ھِ اِحْیَ اءٌ لِلسُّ نَّة وَاِمَاتَ ةٌ لِلْبِدْعَ ةِ وَفَ تْحٌ
لِكَثِیْرٍ مِنْ اَبْوَابِ الْخَیْرِ وَغَلْقٌ لِكَثِیْرٍ مِنْ اَبْ وَابِ الشَّ رِّ ، فَ اِنَّ النَّ اسَ یَتَكَلَّفُ وْن تَكَلُّفً ا كَثِیْ رًا
یُؤَدِّيْ اِلَى اَنْ یَكُوْنَ ذَلِكَ الصُّنْعُ مُحَرَّمًا .

“Dan tidak boleh diragukan lagi bahawa melarang (mencegah) manusia dari perbuatan bid’ah yang mungkar demi untuk menghidupkan sunnah dan mematikan (menghapuskan) bid’ah, membuka banyak pintu-pintu kebaikan dan menutup pintu pintu keburukan dan (kalau dibiarkan bid’ah berterusan) orang-orang (awam) akan
terdedah (kepada kejahatan) sehingga memaksa diri mereka melakukan perkara yang haram”.
Kenduri arwah atau lebih dikenali dewasa ini sebagai majlis tahlilan, selamatan atau yasinan, ia dilakukan juga di perkuburan terutama dihari khaul ( خ ول ). Amalan ini termasuk perbuatan yang amat dibenci, ditegah, diharamkan dan dibid’ahkan oleh Imam Syafie rahimahullah sebagaimana yang telah ditegaskan oleh beliau:

مَا یَفْعَلُھُ النَّاسُ مِنَ اْلاِجْتَمَاعِ عِنْدَ اَھْلِ الْمَیِّتِ وَصُنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ

“Apa yang diamalkan oleh manusia dengan berkumpul dirumah keluarga si mati dan menyediakan makanan adalah termasuk perbuatan bid’ah yang mungkar”.[2]

Di dalam kitab fikh ( حاش یة القلی وبي ) juz. 1 hlm. 353 atau di kitab ( – قلی وبى – عمی رة
حاش یتان ) juz. 1 hlm. 414 dapat dinukil ketegasan Imam ar-Ramli rahimahullah yang mana beliau berkata:
2 Lihat: اعانة الطالبین juz 2 hlm. 145.

قَالَ شَیْخُنَا الرَّمْلِى : وَمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الْمَكْرُوْهِ فِعْلُھَا كَمَا فِى الرَّوْضَةِ مَا یَفْعَلُھُ النَّاسُ
مِمَّا یُسَمَّى الْكِفَارَةَ وَمِنْ صُنْعِ طَعَامِ للاِجْتَمَاعِ عَلَیْھِ قَبْلَ الْمَوْتِ اَوْبَعِ دَهُ وَمِ ن ال ذَّبْحِ عَلَ ى
الْقُبُوْرِ ، بَلْ كُلُّ ذَلِكَ حَرَامٌ اِنْ كَانَ مِ نْ مَ الٍ مَحْجُ وْرٍ وَلَ وْ مِ نَ التَّركَ ةِ ، اَوْ مِ نْ مَ الِ مَیِّ تٍ
عَلَیْھِ دَیْنٌ وَتَرَتَّبَ عَلَیْھِ ضَرَرٌ اَوْ نَحْوُ ذَلِكَ.

“Telah berkata Syeikh kita ar-Ramli: Antara perbuatan bid’ah yang mungkar jika dikerjakan ialah sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab “Ar-Raudah” iaitu mengerjakan amalan yang disebut “kaffarah” secara menghidangkan makanan agar dapat berkumpul di rumah si Mati sama sebelum atau sesudah kematian, termasuklah (bid’ah yang mungkar) penyembelihan untuk si Mati, malah yang demikian itu semuanya haram terutama jika sekiranya dari harta yang masih dipersengketakan walau sudah ditinggalkan oleh si Mati atau harta yang masih dalam hutang (belum dilunas) atau seumpamanya”.

Di dalam kitab ( الفقھ على المذاھب الاربعة ) jld.1 hlm. 539, ada dijelaskan bahawa:

وَمِنَ الْبِدَعِ الْمَكْرُوْھَ ةِ مَ ا یَفْعَ لُ الآن مِ نْ ذَبْ حِ ال ذَّبَائِحَ عِنْ دَ خُ رُوْجِ الْمَیِّ ت اَوْ عِنْ دَ الْقَبْ رِ
وَاِعْدَادِ الطَّعَامِ مِمَّنْ یَجْتَمِعُ لِتَّعْزِیَةِ .

“Termasuk bid’ah yang dibenci ialah apa yang menjadi amalan orang sekarang, iaitu menyembelih beberapa sembelihan ketika si Mati telah keluar dari rumah (telah dikebumikan). Ada yang melakukan sehingga kekuburan atau menyediakan makanan kepada sesiapa yang datang berkumpul untuk takziyah”.

Kenduri arwah pada hakikatnya lebih merupakan tradisi dan kepercayaan untuk mengirim pahala bacaan fatihah atau menghadiahkan pahala melalui pembacaan al-Quran terutamanya surah yasin, zikir dan berdoa beramai-ramai yang ditujukan kepada arwah si
Mati. Mungkin persoalan ini dianggap isu yang remeh, perkara furu’, masalah cabang atau ranting oleh sebahagian masyarakat awam dan dilebih-lebihkan oleh kalangan mubtadi’ “pembuat atau aktivis bid’ah” sehingga amalan ini tidak mahu dipersoalkam oleh pengamalnya tentang haram dan tegahannya dari Imam Syafie rahimahullah dan para ulama yang bermazhab Syafie.

Pada hakikatnya, amalan mengirim atau menghadiahkan pahala bacaan seperti yang dinyatakan di atas adalah persoalan besar yang melibatkan akidah dan ibadah. Wajib diketahui oleh setiap orang yang beriman bahawa masalah akidah dan ibadah tidak boleh
dilakukan secara suka-suka (tanpa ada hujjah atau dalil dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya), tidak boleh berpandukan pada anggapan yang disangka baik lantaran ramainya masyarakat yang melakukannya, kerana Allah Subhanahu wa-Ta’ala telah memberi amaran yang tegas kepada mereka yang suka bertaqlid (meniru) perbuatan orang ramai yang tidak ada dalil atau suruhannya dari syara sebagaimana firmanNya:

وَاِنْ تُطِ ع اَكْثَ رَ مَ ن فِ ى اْلاَرْضِ یُضِ لُّوْكَ عَ ن سَ بِیْلِ اللهِ اِنْ یَّتَّبِعُ وْن اِلاَّ الظَّ نَّ وَاِنْ ھُ مْ اِلاَّ
یَخْرُصُوْنَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan (majoriti) orang-orang yang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkan diri kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am, 6:116)

Begitu juga sesuatu amalan yang disangkakan ibadah sama ada yang dianggap wajib atau sunnah, maka ia tidak boleh ditentukan oleh akal atau hawa nafsu, antara amalan tersebut ialah amalan kenduri arwah (tahlilan atau yasinan) maka lantaran ramainya orang yang mengamalkan dan adanya unsur-unsur agama dalam amalan tersebut seperti bacaan al- Quran, zikir, doa dan sebagainya, maka kerananya dengan mudah diangkat dan dikategorikan sebagai ibadah. Sedangkan kita hanya dihalalkan mengikut dan mengamalkan apa yang benar-benar telah disyariatkan oleh al-Quran dan as-Sunnah jika ia dianggap sebagai ibadah sebagaimana firman Allah Azza wa-Jalla:

ثُمَّ جَعَلْنَ اك عَلَ ى شَ رِیْعَةٍ مِ نَ اْلاَمْ رِ فَاتَّبِعْھَ ا وَلاَ تَتَّبِ عْ اَھْ وَاء الَّ ذِیْنَ لاَ یَعْلَمُ وْنَ . اَنَّھُ مْ لَ نْ
یُّغْنُوْا عَنْكَ مِنَ اللهِ شَیْئًا

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan yang wajib ditaati) dalam urusan (agamamu) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (orang jahil). Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak diri kamu sedikitpun dari siksaan Allah”. (QS. Al-Jatsiyah, 45:18-19)

Setiap amalan yang dianggap ibadah jika hanya berpandukan kepada andaian mengikut perkiraan akal fikiran, perasaan, keinginan hawa nafsu atau ramainya orang yang melakukan tanpa dirujuk terlebih dahulu kepada al-Quran, as-Sunnah dan athar yang sahih untuk dinilai sama ada haram atau halal, sunnah atau bid’ah, maka perbuatan tersebutadalah suatu kesalahan (haram dan bid’ah) menurut syara sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat di atas dan difatwakan oleh Imam Syafie rahimahullah. Memandangkan polemik dan persoalan kenduri arwah kerapkali ditimbulkan dan ditanyakan kepada penulis, maka ia perlu ditangani dan diselesaikan secara syarii (menurut hukum dari al-Quran dan as-Sunnah) serta fatwa para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah dari kalangan Salaf as-Soleh yang muktabar.

Dalam membincangkan isu ini pula, maka penulis tumpukan kepada kalangan para ulama dari mazhab Syafie kerana ramai mereka yang bermazhab Syafie menyangka bahawa amalan kenduri arwah, tahlilan, yasinan atau amalan mengirim pahala adalah diajarkan oleh Imam Syafie dan para ulama yang berpegang dengan mazhab Syafie.

Insya-Allah, mudah-mudahan tulisan ini bukan sahaja dapat menjawab pertanyaan bagi mereka yang bertanya, malah akan sampai kepada mereka yang mempersoalkan isu ini, termasuklah mereka yang masih tersalah anggap tentang hukum sebenar kenduri arwah (tahlilan atau yasinan) menurut Ahli Sunnah wal-Jamaah.

Sumber: http://www.rasuldahri.com
Diupload kembali oleh : http://www.wahonot.wordpress.com

Bung Karno dan Tahlilan

6 Mei
Kepada A. Hassan, Soekarno juga bercerita mengenai ibu mertuanya yang telah meninggal dan kritik yang dialamatkan kepadanya karena ia dan keluarga tidak mengadakan acara tahlilan untuk almarhumah ibu mertuanya.
Dalam surat tertanggal  14 Desember 1935, Soekarno menulis:
“Kaum kolot di Endeh, di bawah ajaran beberapa orang Hadaramaut, belum tenteram juga membicarakan halnya tidak bikin ‘selamatan tahlil’ buat saya punya ibu mertua yang baru wafat itu, mereka berkata bahwa saya tidak ada kasihan dan cinta pada ibu mertua itu.
Biarlah! Mereka tak tahu-menahu, bahwa saya dan saya punya istri, sedikitnya lima kali satu hari, memohonkan ampunan bagi ibu mertua itu kepada Allah. Moga-moga ibu mertua diampuni dosanya dan diterima iman Islamnya. Moga-moga Allah melimpahkan Rahmat-Nya dan Berkat-Nya…”
dicopas dari: (nahimunkar.com)