Tag Archives: sesat

Kekeliruan pembagian hakikat dan syari’at ala sufiyah

31 Mei

Sebagian kalangan tarikat Sufiyah membagi Islam menjadi 2 bagian, yaitu syariat & hakikat. Atau zhahir & batin.

Ibnul-Jauzi rahimahullah menjelaskan: “Banyak kalangan Sufi nan membedakan (agama) menjadi hakikat & syariat”. (*1)

Yang dimaksudkan dgn syariat –menurut kaum Sufi- yaitu perkara apa saja nan diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya tanpa memerlukan adanya pentakwilan. Mereka menyebutnya dgn nama ilmu zhahir atau ilmu syariah. Menurut kalangan Sufi, golongan nan mengimani nash-nash syariat tanpa menggunakan takwil ini, masuk ke dlm kategori kelompok awam. nan termasuk dlm klasifikasi ini -menurut kaca mata mereka- yaitu para imam empat, seluruh ulama fiqih (fuqaha), & ulama hadits.

Adapun pengertian al-haqiqah (hakikat), yaitu bisikan-bisikan hati & mimpi-mimpi kaum Sufi, nan mereka yakini sebagai takwil (penafsiran) ilmu syariat. Ilmu ini dikenal dgn istilah ilmu bathin, & para pemiliknya pun disebut ahlul-bâthin. Mereka inilah –menurut kalangan Sufi- nan dikategorikan sebagai manusia-manusia khâsh, nan menyandarkan cara pengamalan agama pada penakwilan nash-nash syariat. Bahkan kata mereka, ilmu bathin tersebut lebih tinggi daripada ilmu syariah.

Mereka melabeli para ulama syariah dgn sebutan nan merendahkan. Seperti ‘al-’awwaam’ (orang-orang awam), ahlu zhahir, al mahjubun (kaum nan terhalangi dari ilmu). Bahkan, kata ahlu syubuhat & hawa nafsu pun mereka lekatkan pada ulama syariah.

Asy Syaranimenukil riwayat dari seorang tokoh Sufi, Nashr bin Ahmad ad Daqqaq, ia berkata: “Kesalahan seorang murid ada 3: menikah, menulis hadits & bergaul dgn ulama syariah”.

Lain lagi dgn Syaikh Hamd an Nahlan at Turabi. Sebelumnya ia menyibukkan diri dgn mengajar ilmu fiqh. Akan tetapi, pasca mengenal tarikat,menghabiskan waktunya selama 32 bulan utk berkholwat. Murid-muridna pun memintanya utk kembali mengajar. Akan tetapi ia menjawab: “Saya & al Khalil (nama seorang ulama fiqih besar) terlah berpisah sampai hari Kiamat” (*2)

HAKIKAT “ILMU HAKIKAT” SUFIYAH
Menurut seorang tokoh Sufi nan bernama Ibnu ‘Ajîbah (*3), bahwa orang nan membagi agama menjadi hakikat & syariat ialah Nabi.

Menurut Ibnu ‘Ajîbah, Allah mengajarkannya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui wahyu & ilham. Malaikat Jibril datang pertama kali membawa “syariat”. Dan tatkala “syariat” sudah mengakar, maka Malaikat Jabril turun utk kedua kalinya dgn membawa “haqiqat”. Tetapi hanya sebagian orang nan memperolehnya. Dan orang nan pertama kali memunculkannya ialah Sayyiduna ‘Ali. (*4)

Anggapan & keyakinan seperti ini, tentu merupakan pemikiran bid’ah model baru. Karena sejak awal, kaum Muslimin tak pernah mengenal pembagian ini. Kaum Muslimin tak pernah memikirkannya, apalagi sampai mengakuinya. Benih pembagian agama menjadi “hakikat” & “syariat” ini sebenarnya tumbuh dari sekte Syi`ah nan mengatakan bahwa setiap segala sesuatu memiliki sisi zhahir & batin. Sehingga –menurut kaum Sufi- demikian pula dgn Al-Qur`an, ia mempunyai sisi zhahir & batin. Setiap ayat & kata-katanya memuat pengertian zhahir & batin. Sisi batin itu tak terdeteksi kecuali oleh kalangan hamba Allah nan khusus (kaum khawâsh), nan –konon- Allah mengistimewakannya dgn karunia ini, bukan kepada orang selain mereka. (*5)

Oleh karena itu, kalangan Sufi nan memegangi bid’ah ini, mereka telah mengikuti jalan ta`wil, sehingga “terpaksa” banyak menggunakan bahasa-bahasa & istilah nan biasa dipakai orang-orang Syi`ah.

KONSEKUENSI ADANYA “HAKIKAT” DAN “SYARIAT”
Keyakinan nan telah mengakar pada sebagian penganut Sufi ini, memunculkan banyak konsekuensi buruk. Mulai dari berdusta terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam & juga kebohongan terhadap para sahabat, terutama sahabat Abu Bakr, ‘Umar, & Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Beberapa konsekuensi ini mungkin saja tak mereka sadari, atau bahkan mereka tolak, akan tetapi, demikianlah adanya.

Misalnya tentang kedustaan terhadap Allah Ta’ala,. Yaitu, mereka melakukan pembagian agama menjadi “hakikat” & “syariat” itu turun dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya dgn perantaraan Malaikat Jibril Alaihissalam. Sedangkan kedustaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa adanya pembagian ini telah menyiratkan tuduhan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan kitmânul-’ilmi (menyembunyikan sebagian ilmu) & tak menjalankan amanah tabligh secara penuh. Padahal, terdapat ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala atas orang-orang nan menyembunyikan ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang nan menyembunyikan apa nan telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) & petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dlm Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah & dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) nan dapat melaknati”. [al- Baqarah/2:159].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa nan ditanya ilmu, kemudian ia menyembunyikannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membelenggu mulutnya dgn tali kekang dari neraka pada hari Kiamat kelak” [HR Abu Dawud].

Sehingga tak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan sebagian ilmu. Anggapan itu, nyata merupakan pendapat nan mengada-ada. Ilmu apakah nan beliau sembunyikan? Padahal saat haji Wada`, beliau n telah mempersaksikan tentang tugasnya nan sudah disampaikannya secara utuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah menegaskan kesempurnaan Islam dlm Al-Qur`ânul-Karim.

Adapun lontaran kebohongan terhadap para sahabat, yaitu anggapan bahwa para sahabat Radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang sesat, bodoh, & tak mengenal ilmu hakikat nan dapat mendekatkan manusia kepada mahabatullah. Lontaran ini tentu merupakan kedustaan. Sebab mengandung hujatan nan meminggirkan peran para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, & hanya menempatkan Sahabat ‘Ali sajalah nan telah berperan dlm masalah ini, meskipun hakikatnya mereka pun berdusta atas nama Sahabat ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu.

Secara khusus, kedustaan ini memuat 2 permasalahan.

Pertama: Yakni semakin menguatkan adanya benang merah antara Sufi & Syi’ah.
Kedua: Kedustaan ini merupakan petunjuk adanya hasad terpendam terhadap agama Islam. Karena pembagian agama dlm 2 kutub “syariat” & “hakikat”, di dalamnya mengandung usaha utk menjauhkan umat Islam dari generasi terbaiknya, yaitu para sahabat Radhiyallahu ‘anhum nan mulia.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kaum Muslimin utk memahami agama Islam dgn cara nan benar.

Marâji`:
– Hâdzihi Hiyash Shûfiyah, Syaikh ‘Abdur-Rahmân al-Wakîl.
– Ijtimâ Juyûsyil-Islâmiyyah lil-Imam Ibnil-Qayyim ma’a Mauqifihi min Ba’dhil-Firaq, Dr. ‘Awwâd bin ‘Abdullah al-Mu’tiq, Maktabah Rusyd, Cetakan III, Tahun 1419 H – 1999 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Referensi
(*1). Naqdul-‘Ilmi wal-‘Ulama, hlm. 246-247.
(*2). Târîkh Baghdâd (2/331)
(*3). Ahmad bin Muhammad bin al Mahdi bin Ajîbah, dia adalah seorang tokoh Sufi, meninggal pada tahun 122H. Dia menulis sebuah kitab berjudul Iqâzhul-Himami fi Syarhil-Hikam.
(*4). Iqâzhul-Himami fi Syarhil-Hikam (1/5). Dikutip dari halaman 149 Ijtimâ’ Juyûsyil-Islâmiyyah lil- Imam Ibnil-Qayyim ma’a Mauqifihi min Ba’dhil-Firaq, Dr. ‘Awwâd bin ‘Abdullah al-Mu’tiq
(*5). Mengenai aliran Bathiniyah, lihat kupasannya di Majalah As-Sunnah, Edisi 01/Tahun X/1427 H/2006 M, hlm. 54-57.
sumber: http://www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Minhâl tags: Al Khalil, Ilmu Bathin, Kaca Mata, Bin Ahmad, Apa Saja

Iklan

Ilmu kebatinan

31 Mei

Sufiyah (merupakan kelompok beraliran tasawwuf) terkadang berani memalsukan hadits atas nama Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- demi menguatkan ajaran mereka dan menipu orang awwam. Di antara hadits-hadits yang mereka palsukan:

عِلْمُ الْبَاطِنِ سِرٌّ مِنْ‏‎ ‎اَسِرَارِاللهِ عَزَّوَجَلَّ‏‎ ‎وَحُكْمٌ مِنْ اَحْكَامِ اللهِ‏‎ ‎يُقْذِفُهُ فِيْ قُلُوْبِ مَنْ‏‎ ‎يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

“Ilmu batin adalah rahasia di antara rahasia-rahasia Allah dan hukum di antara hukum-hukum Allah, Allah melemparkannya ke dalam hati orang yang dikehendaki-Nya dari kalangan hamba-hamba-Nya.” [HR. Ad-Dailamy dalam Al-Firdaus (3/290 –Az-Zuhar)]

Hadits ini palsu karena orang-orang yang meriwayatkannya tidak dikenal (majhul), terlebih lagi hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ad-Dailamy. Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- menghukumi hadits ini palsu dalam Dho’if Al-Jami’ (3724).

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 8 Tahun I.

Lihat: http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/ilmu-batin.html

Tahlilan sarana silaturahmi ?

7 Mei

Sebagian orang membolehkan tahlilan orang meninggal karena ia dianggap sebagai ajang silaturahmi antar sesama warga yang sangat jarang bertemu disebabkan kesibukan mereka masing-masing.

Jawaban atas pendapat ini adalah sebagai berikut:

Acara tahlilan memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal bukanlah merupakan bagian dari syariat Islam sama sekali. Buktinya, betapa banyak kaum muslimin yang meninggal pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم hidup, namun tidak ada satu riwayat yang shahih pun yang menerangkan bahwa beliau menyelenggarakan acara tersebut. Beliau juga tidak pernah mengajarkan para sahabat mengenai hal ini. Oleh karena itu, tidaklah boleh bagi kita untuk melakukan ritual ibadah yang tidak pernah dilakukan atau diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم karena hal tersebut dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Apabila kita ingin melakukan silaturahmi dengan masyarakat, maka Islam sendiri telah mengatur tata caranya, di antaranya adalah dengan mengucapkan salam bila bertemu, saling mengunjungi, menghadiri shalat berjamaah di mesjid, bergotong royong, menjenguk tetangga yang sakit, dan lain sebagainya. Masih banyak cara syar’i yang bisa kita tempuh, tanpa harus melakukan hal-hal yang dilarang di dalam Islam. Kalau memang tahlilan itu bermanfaat sebagai ajang silaturahmi dan baik di mata syariat, niscaya Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat pasti telah membuat tahlilan setiap ada yang meninggal.

Perlu diketahui, bahwasanya bukan hanya ibadah yang perlu mencocoki syariat, akan tetapi kebudayaan dan kebiasaan pun haruslah tidak boleh sampai menyelisihi syariat. Apabila kita menjumpai penyelisihan syariat di dalam suatu budaya atau kebiasaan maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya karena kita selaku hamba Allah dituntut untuk taat kepada hukum-Nya.

وبالله التوفيق

Tahlilan dlm kitab I’aanatutthalibin kitabul janaiz

7 Mei

1 . Apa yang dikerjakan orang , yaitu berkumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk Bid’ah Mungkar, yang bagi orang yang melarangnya akan diberi pahala .

2 . Dan apa yang telah menjadi kebiasaan , ahli mayit membuat makanan untuk orang-orang yang diundang datang padanya , adalah Bid’ah yang dibenci .

3 . Dan tidak diragukan lagi bahwa melarang orang-orang untuk melakukan Bid’ah Mungkarah itu (Haulan/Tahlilan : red) adalah menghidupkan Sunnah , mematikan Bid’ah, membuka banyak pintu kebaikan , dan menutup banyak pintu keburukan .

4 . Dan dibenci bagi para tamu memakan makanan keluarga mayit , karena telah di syari’atkan tentang keburukannya , dan perkara itu adalah Bid’ah . Telah di riwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih , dari Jarir ibnu Abdullah , berkata : “ Kami menganggap berkumpulnya manusia di rumah keluarga mayit dan dihidangkan makanan , adalah termasuk Niyahah ” .

5 . Dan di benci menyelenggarakan makanan pada hari pertama , ketiga , dan sesudah seminggu dst .

Tahlilan dlm dialog sunan ampel dngn sunan kalijogo

7 Mei

Berikut adalah dokumen yang bisa di pertanggung jawabkan kebenarannya sehubungan dengan kisah-kisah Walisongo HET BOOK VAN BONANG [1] buku ini ada di perpustakaan Heiden Belanda , yang menjadi salah satu dokumen langka dari jaman Walisongo .Kalau tidak dibawa Belanda , mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap .

Buku ini ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran- ajaran Islam . Dalam naskah kuno itu diantara nya menceritakan tentang Sunan Ampel memperingatkan Sunan Kalijogo yang masih melestarikan selamatan . ” Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk BIDA’H ” .

Sunan Kalijogo menjawab : “ Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu ”.

Dalam buku Kisah dan Ajaran Wali Songo yang ditulis H . Lawrens Rasyidi dan diterbitkan Penerbit Terbit Terang Surabaya juga mengupas panjang lebar mengenai masalah ini . Dimana Sunan Kalijogo , Sunan Bonang , Sunan Kudus , Sunan Gunungjati dan Sunan Muria (kaum abangan) berbeda pandangan mengenai adat istiadat dengan Sunan Ampel , Sunan Giri dan Sunan Drajat (kaum putihan) . Sunan Kalijogo mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan , bersaji , wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman .

Sunan Ampel berpandangan lain : “ Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam ? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi BID’AH ?

Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari ada yang menyempurnakannya (hal 41, 64) .

Sunan Ampel , Sunan Bonang , Sunan Drajat , Sunan Gunung Jati dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni , baik tentang aqidah maupun ibadah . Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisme / mencampurkan , memadukan ajaran Hindu dan Budha dngn Islam . Tetapi sebaliknya Sunan Kudus , Sunan Muria dan Sunan Kalijaga mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam .

Sampai saat ini budaya itu masih ada di masyarakat kita , seperti sekatenan , ruwatan , shalawatan , tahlilan , upacara tujuh bulanan dll . [ Sumber : Abdul Qadir Jailani , Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia ] , hal . 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu .

NASEHAT SUNAN BONANG

Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen “ Het Book van Mbonang ” itu adalah peringatan dari sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih , dan mencegah diri dari kesesatan dan BID’AH .

Bunyinya sebagai berikut :

“ Ee..mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami- saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“. Artinya : “ Wahai saudaraku ! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu . Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan BIDA’H .

[1] Dokumen ini adalah sumber tentang walisongo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid , yang tersimpan di Museum Leiden , Belanda . Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti . Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816 , dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881 , Dr. Da Rinkers tahun 1910 , dan Dr. Pj Zoetmulder Sj , tahun 1935 .

Tahlilan berasal dari budaya hindu

7 Mei

Kita mengenal sebuah ritual keagamaan di dalam masyarakat muslim ketika terjadi kematian adalah menyelenggarakan selamatan kematian/kenduri kematian/tahlilan/yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 harinya. Disini kami mengajak anda untuk mengkaji permasalahan ini secara praktis dan ilmiah.

Setelah diteliti ternyata amalan selamatan kematian/kenduri kematian/tahlilan di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 hari, bukan berasal dari Al Quran, Hadits (sunah rasul) dan juga Ijma Sahabat, malah kita bisa melacaknya dikitab-kitab agama hindu.

Disebutkan bahwa kepercayaan yang ada pada sebagian ummat Islam, orang yang meninggal jika tidak diadakan selamatan (kenduri: 1 hari, 3 hari, 7 hari, 40 hari dst, /red ) maka rohnya akan gentayangan adalah jelas-jelas berasal dari ajaran agama Hindu. Dalam agama Hindu ada syahadat yang dikenal dengan Panca Sradha (Lima Keyakinan). Lima keyakinan itu meliputi percaya kepada Sang Hyang Widhi, Roh leluhur, Karma Pala, Samskara, dan Moksa. Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang mati) harus dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dari manusia [Kitab Weda Smerti Hal. 99 No. 192]. Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya Samskara (menitis/reinkarnasi).

Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi : “Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.

Dalam buku media Hindu yang berjudul : “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : “Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu”.

Telah jelas bagi kita pada awalnya ajaran ini berasal dari agama Hindu, selanjutnya umat islam mulai memasukkan ajaran-ajaran islam dicampur kedalam ritual ini. Disusunlah rangkaian wirid-wirid dan doa-doa serta pembacaan Surat Yasin kepada si mayit dan dipadukan dengan ritual-ritual selamatan pada hari ke 7, 40, 100, dan 1000 yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Apakah mencampur-campur ajaran seperti ini diperbolehkan??

Iya, campur mencampur ajaran ini tanpa sadar sudah diajarkan dan menjadi keyakinan nenek moyang kita dulu yang ternyata sebagian dari kaum muslimin pun telah mewarisinya dan gigih mempertahankannya.

Lalu apakah kita lebih memegang perkataan nenek moyang kita daripada apa-apa yang di turunkan Allah kepada RasulNya?

Allah berfirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

”Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS Al Baqoroh ayat 170)

Allah berfirman :

وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya” (QS Al Baqarah 42)

Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh kita untuk tidak boleh mencampuradukkan ajaran agama islam (kebenaran) dengan ajaran agama Hindu (kebatilan) tetapi kita malah ikut perkataan manusia bahwa mencampuradukkan agama itu boleh, Apa manusia itu lebih pintar dari Allah???

Selanjutnya Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS. Albaqoroh : 208).

Allah menyuruh kita dalam berislam MENYELURUH, tidak setengah-setengah…

TIDA

K SETENGAH HINDU…SETENGAH ISLAM…

http://www.abuayaz.blogspot.com/

Tahlilan / selamatan kematian menurut Syekh Nawawi

7 Mei

Syekh Nawawi al-Bantani , Syekh Arsyad al-Banjary dan Syekh Nuruddin ar- Raniry yang merupakan peletak dasar-dasar pesantren di Indonesia pun masih berpegang kuat dalam menganggap buruknya selamatan kematian itu . “ Shadaqah untuk mayit , apabila sesuai dengan tuntunan syara ’ adalah dianjurkan , namun tidak boleh dikaitkan dengan hari ke tujuh atau hari- hari lainnya , sementara menurut Syaikh Yusuf , telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang yang melakukan shadaqah untuk mayit dengan dikaitkan terhadap hari ketiga dari kematiannya , atau hari ke tujuh , atau ke duapuluh , atau ke empatpuluh , atau ke seratus dan sesudah nya hingga di biasakan tiap tahun dari kematian nya , padahal hal tersebut hukumnya makruh. Demikian pula makruh hukumnya menghidangkan makanan yang ditujukan bagi orang-orang yang berkumpul pada malam penguburan mayit (biasa disebut al-wahsyah), bahkan haram hukum hukumnya biayanya berasal dari harta anak yatim ”. (an-Nawawy al-Bantani , Nihayah al-Zein fi Irsyad al-Mubtadi’ien (Beirut: Dar al-Fikr) hal 281) .

Pernyataan senada juga diungkapkan Muhammad Arsyad al-Banjary dalam Sabiel al-Muhtadien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 87, serta Nurudin al-Raniry dalam Shirath al-Mustaqim (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 50)