Shalawat bid’ah buatan sufi

3 Jun

Shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bukanlah amalan yang asing bagi seorang muslim. Hampir-hampir setiap majlis ta’lim ataupun acara ritual tertentu tidak pernah lengang dari dengungan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Terlebih bagi seorang muslim yang merindukan syafa’atnya, ia pun selalu melantunkan shalawat dan salam tersebut setiap kali disebutkan nama beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam. Karena memang shalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam merupakan ibadah mulia yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya”. (Al Ahzab: 56)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya): “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan membalasnya dengan shalawat sepuluh kali lipat.” (H.R. Al Hakim dan Ibnu Sunni, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’)

Demikianlah kedudukan shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam agama Islam. Sehingga di dalam mengamalkannya pun haruslah dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Sebaik-baik shalawat, tentunya yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dan sejelek-jelek shalawat adalah yang menyelisihi petunjuknya Shallallahu ‘alaihi wassallam. Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam lebih mengerti shalawat manakah yang paling sesuai untuk diri beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Diantara shalawat-shalawat yang telah dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya, yaitu:

اللّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dan masih banyak lagi shalawat yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam . Adapun shalawat-shalawat yang menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam maka cukup banyak juga, diantaranya beberapa shalawat yang biasa dilantunkan oleh orang-orang Sufi ataupun orang-orang yang tanpa disadari terpengaruh dengan mereka.

Beberapa Shalawat ala Sufi

1. Shalawat Nariyah

Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Dengan suatu keyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:

اللهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تآمًا عَلَى سَيِّدِنَا مًحَمَّدٍ الَّذِي تُنْحَلُ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ عَدَدَ كَلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“Ya Allah , berikanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Nabi Muhammad, yang dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan dibebaskan semua kesulitan. Dan dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan, diraih segala keinginan dan kematian yang baik, dan dengan wajahnya yang mulia tercurahkan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih. Semoga shalawat ini pun tercurahkan kepada keluarganya dan para sahabatnya sejumlah seluruh ilmu yang Engkau miliki.”

Para pembaca, bila kita merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka kandungan shalawat tersebut sangat bertentangan dengan keduanya. Bukankah hanya Allah semata yang mempunyai kemampuan untuk melepaskan semua ikatan kesusahan dan kesulitan, yang mampu memenuhi segala kebutuhan dan memberikan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih?!

Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan tertimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raf: 188)

Dan juga firman-Nya :

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً

“Katakanlah (wahai Muhammad): Panggillah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.” (Al-Isra: 56)

Para ahli tafsir menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum yang berdo’a kepada Al Masih, atau malaikat, atau sosok orang shalih dari kalangan jin. (Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)

Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam , lalu mengatakan: مَا شَاءَ اللهَُ وَ شِئْتَ
“Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:

أَجَعَلْتَنِيْ لِلَّهِ نِدًّا ؟!

“Apakah engkau hendak menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah? Ucapkanlah: مَا شَاءَ اللهَُ وَحْدَهُ “Berdasarkan kehendak Allah semata”. (HR. An-Nasa’i dengan sanad yang hasan) (Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah hal. 227-228, Muhammad Jamil Zainu)

Maka dari itu, jelaslah dari beberapa dalil diatas bahwasanya Shalawat Nariyah terkandung padanya unsur pengkultusan yang berlebihan terhadap diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam hingga menyejajarkannya dengan Allah Ta’ala. Tentunya yang demikian ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang dimurkai oleh Allah dan Nabi-Nya.

2. Shalawat Al Faatih (Pembuka)

Nash shalawat tersebut adalah:
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ

“Ya Allah! berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka segala yang tertutup ….”

Berkata At-Tijani pendiri tarekat Sufi Tijaniyah – secara dusta – : “….Kemudian beliau (Nabi Shallahu ‘alaihi wassalam) mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya, bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, menyamai dari setiap do’a yang kecil maupun besar, dan menyamai membaca Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.” (Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman)

Para pembaca, demikianlah kedustaan, kebodohan dan kekafiran yang nyata dari seorang yang mengaku berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam , karena ia berkeyakinan bahwa perkataan manusia lebih mulia 6.000 kali lipat daripada firman Allah Ta’ala.

Bukankah Allah telah menegaskan dalam firman-Nya :

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلاً

“Dan siapakah yang perkatannya lebih benar dari pada Allah? (An Nisaa’:122)

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan sungguh telah sempurna kalimat Tuhanmu(Al Qur’an),sebagai kalimat yang benar dan adil.”(Al An’am:115)

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam telah menegaskan dalam sabdanya (artinya):

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah “. (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an , maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif laam miim itu satu huruf, namun alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani)

Wahai saudaraku, dari beberapa dalil di atas cukuplah bagi kita sebagai bukti atas kebatilan shalawat Al Faatih, terlebih lagi bila kita telusuri kandungannya yang kental dengan nuansa pengkultusan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam yang dilarang dalam agama yang sempurna ini.

3. Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan)

Nash adalah sebagai berikut:

اللهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِيْ عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah …”.

Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)

Wahai saudaraku, mana mungkin shalat yang merupakan tiang agama dan sekaligus rukun Islam kedua pahalanya 600. 000 di bawah shalawat sa’adah ini?! Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas kepalsuan dan kebatilan shalawat tersebut.

4. Shalawat Burdatul Bushiri

Nashnya adalah sebagai berikut:

يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ

“Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam ) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.”

Shalawat ini mempunyai beberapa (kemungkinan) makna. Bila maknanya seperti yang terkandung di atas, maka termasuk tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam yang beliau telah meninggal dunia.

Hal ini termasuk jenis tawasul yang dilarang, karena tidak ada seorang pun dari sahabat yang melakukannya disaat ditimpa musibah dan yang sejenisnya. Bahkan Umar bin Al Khathab ketika shalat istisqa’ (minta hujan) tidaklah bertawasul dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam karena beliau telah meninggal dunia, dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam (yang masih hidup ketika itu) untuk berdo’a. Kalaulah tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia merupakan perbuatan yang disyari’atkan niscaya Umar melakukannya.

Adapun bila mengandung makna tawasul dengan jaah (kedudukan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama, karena hadits: تَوَسَّلُوا بِجَاهِي “Bertawasullah dengan kedudukanku”, merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu). Bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta’ala butuh terhadap perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara dia dengan rakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Al Firqatun Najiyah hal. 85)

Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi Nabi Muhammad) maka termasuk syirik, karena tergolong sumpah dengan selain Allah Ta’ala.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” ( HR At Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shahih)

Para pembaca, dari sekian makna di atas maka jelaslah bagi kita kebatilan yang terkandung di dalam shalawat tersebut. Terlebih lagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya tidak pernah mengamalkannya, apalagi mengajarkannya. Seperti itu pula hukum yang dikandung oleh bagian akhir dari Shalawat Badar (bertawasul kepada Nabi Muhammad, para mujahidin dan ahli Badar).

5. Nash shalawat seorang sufi Libanon:

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ الأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ

“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).”

Padahal Allah Ta’ala berfirman (artinya): ”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri pernah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah: “(Aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.R Al Bukhari).

Wallahu A’lam Bish Shawab

Hadits-Hadits Palsu Dan Dha’if Yang Tersebar Di Kalangan Umat
Hadits Anas bin Malik Radiyallahu ‘anhu:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثَمَانِيْنَ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَ ثَمَانِيْنَ عَامًا

“Barangsiapa bershalawat kepadaku pada malam Jum’at 80 kali, niscaya Allah akan mengampuni segala dosanya selama 80 tahun.”

Keterangan:
Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir. Al Khathib Al Baghdadi berkata: “Dia seorang yang tidak bisa dipercaya.” Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 215)
(Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 50/II/IV/1426, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli “Tasawuf & Sholawat Nabi”. Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun via email.)

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=947

Imam Ath Thurtusi : Kedustaan Ihya’ Ulumuddin
Membujang Ala Sufi
Shalawat Bid’ah ‘Buatan’ SUFI
Sufi dan Karomah Wali
Keyakinan Sufi
Kesesatan Sufi
Paham Sesat Tasawuf
Hakikat Ilmu Laduni (kasyaf)
Akidah Manunggaling Kawula Gusti Di Tubuh Kaum Sufi

Iklan

Membujang ala sufi

31 Mei

Sufi, adalah salah satu kelompok sempalan tempat beragam penyimpangan dari ajaran syariat ini berhuni. Salah satu ajaran menyimpang yang menonjol adalah tabattul (hidup membujang). Diyakini oleh penganut sufi, dengan “cara beragama” seperti ini, mereka lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benarkah?

Di antara nikmat dan tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah disyariatkannya nikah, yang mana mendatangkan banyak maslahat dan manfaat bagi setiap individu dan masyarakatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Nikah termasuk nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung. Allah Subhanahu wa Ta’ala syariatkan bagi hamba-Nya dan menjadikannya sebagai sarana serta jalan menuju kemaslahatan dan manfaat yang tak terhingga.” (Dinukil dari Taudhihul Ahkam, 4/331)

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya dengan lafadz perintah dalam beberapa ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُوا

“Dan jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Namun jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (An-Nisa`: 3)

وَأَنْكِحُوا اْلأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah hendaknya menikah, karena itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak mampu, hendaknya berpuasa karena itu adalah pemutus syahwatnya.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata kepada Sa’id bin Jubair rahimahullahu: “Menikahlah, karena orang terbaik di umat ini adalah yang paling banyak istrinya.” (Dibawakan oleh Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya)

Bahkan para ulama menyatakan, seorang yang khawatir terjatuh dalam zina maka dia wajib menikah. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata: “Nikah menjadi wajib atas seorang yang khawatir terjatuh dalam zina jika meninggalkannya. Karena, itu adalah jalan bagi dia untuk menjaga diri dari perbuatan haram. Dalam keadaan seperti ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Jika seseorang telah perlu menikah dan khawatir terjatuh dalam kenistaan jika meninggalkannya, maka harus dia dahulukan dari amalan haji yang wajib.” (Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/258)

Seorang yang menikah dengan niat menjaga kehormatan dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُمْ: الْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ اْلأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ، وَالْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Tiga golongan yang Allah akan menolong mereka: budak yang hendak menebus dirinya, seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, dan seorang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. An-Nasa`i, Kitabun Nikah, Bab Ma’unatullah An-Nakih Al-Ladzi Yuridul ‘Afaf, no. 3166)

Janganlah seseorang meninggalkan pernikahan karena mengikuti bisikan setan, dengan dibayangi kesulitan ekonomi, padahal dia telah sangat ingin menikah serta takut terjatuh dalam maksiat. Bertawakallah dengan disertai ikhtiar, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin orang yang benar-benar bertawakal kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa yang bertawakal kepada-Nya pasti Dia akan menjadi Pencukupnya.” (Ath-Thalaq: 3)

Tabattul ala Shufiyah (Sufi)

Tabattul adalah meninggalkan wanita dan pernikahan dengan dalih untuk fokus beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tabattul adalah keyakinan Shufiyah yang menyelisihi prinsip Islam.
Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata: “Hidup menyendiri bukanlah termasuk ajaran Islam.” Beliau juga berkata: “Barangsiapa yang mengajak untuk tidak menikah, maka dia telah menyeru kepada selain Islam. Jika seorang telah menikah, maka telah sempurna keislamannya.” (lihat ucapan beliau dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah rahimahullahu)

Apa yang beliau sebutkan didasari banyak dalil. Di antaranya, ketika ada tiga orang datang ke rumah sebagian istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya tentang ibadah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika kembali, sebagian mereka menyatakan: “Aku akan puasa terus menerus dan tidak akan berbuka.” Yang lain berkata: “Aku akan shalat malam, tidak akan tidur.” Dan sebagian lagi berkata: “Aku tak akan menikah dengan wanita.” Ketika sampai ucapan ketiga orang ini kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا: كَذَا وَكَذَا؟! لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Kenapa ada orang-orang yang berkata ini dan itu?! Aku shalat malam tapi juga tidur, aku puasa tapi juga berbuka, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, dia tidak di atas jalanku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Syaikhul Islam rahimahullahu berkata: “Berpaling dari istri dan anak (tidak mau menikah, pen.) bukanlah perkara yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Bahkan bukan agama para nabi dan rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَلَقْدَ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

“Kami telah utus para rasul sebelum engkau dan kami berikan kepada mereka istri dan keturunan.” (Ar-Ra’d: 38) [Ucapan Ibnu Taimiyah rahimahullahu dinukil dari Taudhihul Ahkam]
Sehingga Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullahu menyatakan bahwa meninggalkan nikah dengan niat sebagai ibadah termasuk bid’ah (yakni bid’ah tarkiyah). (Lihat Al-I’tisham karya Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullahu)

Dalil-dalil yang Melarang Tabattul

Bahkan telah ada nash-nash khusus melarang tabattul. Dalam Ash-Shahihain, diriwayatkan bahwa Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata:

رَدَّ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ، وَلَوْ أُذِنَ لَهُ لَاخْتَصَيْنَا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak permintaan Utsman bin Mazh’un untuk terus membujang. Kalau beliau mengizinkannya, niscaya kami akan mengebiri diri kami.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنْ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا وَيَقُولُ: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ اْلأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Rasulullah memerintahkan kami untuk menikah dan melarang kami bertabattul. Beliau berkata: ‘Nikahilah oleh kalian wanita yang subur (calon banyak anak), karena aku akan berbangga kepada para nabi di hari kiamat dengan banyaknya kalian’.” (Hadits shahih riwayat Ahmad)

Bid’ah Tabattul Menjerumuskan Shufiyah ke dalam Kubangan Maksiat

Pemikiran bid’ah yang ada pada Shufiyah ini menjerumuskan mereka kepada perkara-perkara yang menghinakan. Kami akan sampaikan apa yang telah diterangkan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu ketika menjelaskan kejelekan-kejelekan Shufiyah. Beliau rahimahullahu berkata:
“…Di antara khurafat Shufiyah adalah mereka mengharamkan atas diri mereka apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan berupa menikah –padahal menikah merupakan sunnah para rasul–. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا

“Kami telah utus para rasul sebelum engkau serta kami berikan kepada mereka istri dan keturunan.” (Ar-Ra’d: 38)

Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dibuat cinta kepadaku dari dunia kalian minyak wangi dan wanita, serta dijadikan penyejuk mataku adalah shalat.”

Datang tiga orang kepada istri Nabi, bertanya tentang ibadah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika diberi kabar sepertinya mereka menganggap sedikit, maka sebagian mereka berkata: ‘Adapun saya, akan shalat malam dan tak akan tidur.’ Yang lain berkata: ‘Aku akan puasa dan tak akan berbuka.’ Yang lainnya lagi berkata: ‘Aku tak akan menikahi wanita.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan diberi tahu tentang ucapan mereka ini. Beliaupun berkata:

أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Kalian yang berkata demikian dan demikian, ketahuilah aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling bertakwa. Akan tetapi aku shalat malam dan tidur, aku berpuasa serta berbuka, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku maka dia bukan berada di atas jalanku.”

Rabbul ‘Izzah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Ma`idah: 87)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur`an:

يَابَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap shalat, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)

Mereka menahan diri mereka dari wanita (tidak mau menikah, pen.). Siapakah yang mereka ikuti? (Mereka) mengikuti tokoh-tokoh Nashrani dan ‘abid (para ahli ibadah) dari kalangan Yahudi.
Akan tetapi, ketika mereka enggan kepada wanita, apa yang mereka lakukan? Mereka terfitnah oleh amrad (laki-laki yang wajahnya mirip wanita). Sampai pernah terjadi, seorang (Shufi) kasmaran kepada seorang amrad (sebagaimana dalam kitab Talbis Iblis). Ketika keduanya dipisah, dia berusaha untuk masuk menemuinya dan membunuhnya. Kemudian dia menangis di sisinya serta mengaku bahwa dialah yang membunuhnya. Ketika bapak si anak tersebut datang, diapun berkata: “Aku yang membunuhnya, aku minta kepadamu dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meng-qishash-ku.” Tapi bapak si anak ini memaafkannya. Maka orang ini kemudian melakukan haji dan menadzarkan pahala hajinya bagi anak tersebut.

Dan yang lebih menjijikkan dari ini adalah ada seorang (dari kalangan Shufiyah, pen.) melakukan perbuatan nista (yakni liwath/homoseksual) dengan seorang anak kecil. Kemudian dia naik ke atap rumah –kebetulan rumahnya di atas laut– dan dia lemparkan dirinya (bunuh diri) seraya membaca ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

“Maka bertaubatlah kepada Rabb yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu.” (Al-Baqarah: 54)

Demikianlah keadaan Shufiyah. Masih banyak lagi kenistaan dan kebobrokan mereka, yakni dalam masalah wanita…” (Al-Mushara’ah, hal. 378-379, dengan sedikit perubahan)

Hendaknya seorang muslim menjaga agamanya dan mendasari setiap amalnya dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Janganlah seseorang beramal hanya berdasarkan akal dan perasaan semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb kalian.” (Al-A’raf: 3)

Ketahuilah, di antara sebab kesesatan manusia adalah ketika bersandar kepada akal dan perasaannya semata dalam beragama, seperti apa yang menimpa kaum Shufiyah. Mudah-mudahan kita senantiasa mendapatkan taufiq sampai akhir hayat kita.

Penyimpangan-penyimpangan dalam Masalah Nikah

Alangkah baiknya kita mengetahui juga masalah-masalah lain yang merupakan penyimpangan yang ada di sekitar kita. Perkara yang akan merusak dan mengotori aqidah kita.
Ketahuilah perbuatan syirik besar itu menggugurkan tauhid seseorang. Kebid’ahan menghalangi kesempurnaan tauhid seseorang. Sedangkan perbuatan maksiat yang lain akan mengotori dan menghalangi buah dari tauhid.

Banyak keyakinan, pemikiran, dan amalan sebagian muslimin yang berkaitan dengan masalah pernikahan telah menyimpang dari tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara pemikiran dan amalan menyimpang tersebut adalah:

1. Minta jodoh dan anak kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala
Sebagian mereka ketika sulit mendapatkan jodoh atau anak, pergi ke kuburan atau tempat yang dianggap keramat untuk minta jodoh atau anak. Atau mereka pergi ke dukun. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Berdoa adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi, Kitab Tafsiril Qur`an ‘an Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Bab Wa Min Suratil Baqarah, no. 2895)

Tidak boleh berdoa minta diberi jodoh, anak kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena berdoa adalah ibadah, barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti telah terjatuh dalam perbuatan syirik. Tidak boleh pula minta bantuan dukun atau yang disebut ‘orang pintar’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi ‘arraf (dukun, ahli nujum, tukang ramal dan sejenisnya), kemudian bertanya sesuatu kepadanya, tak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR. Muslim, Kitabus Salam, Bab Tahrimul Kahanah wa Ityanil Kuhhan, no. 4137)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata juga:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau ‘arraf, kemudian membenarkan ucapannya, berarti dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad dan lainnya)

Lihatlah bahaya mendatangi dukun! Semata mendatangi dan bertanya kepada dukun akan mengakibatkan tidak diterimanya shalat selama 40 hari. Jika membenarkannya, berarti telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Tathayyur
Di antara penyelisihan aqidah dalam masalah menikah adalah melarang melakukan acara pernikahan di bulan atau hari tertentu (karena takut sial, ed.). Amalan seperti ini disebut tathayyur. Tathayyur adalah beranggapan sial pada semua yang dilihat, didengar, serta beranggapan sial pada tempat dan waktu tertentu.
Keyakinan sebagian orang bahwa bulan Shafar atau bulan Suro tidak boleh ada pernikahan karena akan ada bencana bagi yang menikah di bulan tersebut adalah keyakinan yang batil. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah/tathayyur, tidak ada pengaruh burung hantu, dan tidak ada (sial karena bulan) shafar.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Ath-Thib, Bab La Hamah, no. 5316)
Ditafsirkan bahwa shafar adalah bulan Shafar, karena orang-orang jahiliah menganggap sial menikah di bulan Shafar. (Lihat Fathul Majid)

3. Tasyabbuh (meniru orang kafir)
Tasyabbuh (meniru) orang kafir adalah amalan yang haram dalam masalah pernikahan ataupun lainnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai satu kaum maka termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Kitabul Libas, Bab fi Lubsi Asy-Syuhrah, no. 3512)
Di antara perkara tasyabbuh yang ada dalam pernikahan adalah apa yang disebut dablah (tukar cincin/ pertunangan, -ed). Jika sampai ada keyakinan bahwa selama cincin tersebut masih di tangan kedua mempelai maka akan tetap rukun rumah tangga keduanya, berarti telah terjatuh dalam kesyirikan. Jika seseorang memakainya tanpa ada keyakinan seperti itu, dia tetap terjatuh dalam tasyabbuh. Apalagi jika cincin tersebut dari emas, maka pengantin pria terjatuh dalam keharaman lainnya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي حِلٌّ لِإِنَاثِهِمْ

“Sesungguhnya dua benda ini (yakni emas dan sutera, pen.) haram atas laki-laki umatku dan halal bagi kaum wanitanya.” (HR. Ibnu Majah, Kitabul Libas, Bab Labsil Harir wadz Dzahab lin Nisa`, no. 3585)

4. Menikah dengan Orang yang Berbeda Agama
Ketahuilah, seorang mukmin dan mukminah, bagaimanapun keadaannya, mereka tetap lebih baik daripada orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hati kalian. Dan janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah: 221)

Sangat disayangkan, banyak orangtua mengorbankan putrinya untuk mendapatkan dunia semata, menikahkan putrinya dengan orang kafir yang tidak halal bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللهُ أَعْلَمُ بِإِيْمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلاَ تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah Subhanahu wa Ta’alaebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (Al-Mumtahanah: 10)

Orang kafir –walaupun ahlul kitab– tidaklah halal bagi seorang wanita muslimah.

5. Tiwalah
Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat dengan keyakinan bisa membuat suami cinta kepada istrinya atau istri kepada suaminya. Inipun satu amalan yang terlarang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Inilah sebagian kecil masalah aqidah yang dilanggar sebagian kaum muslimin dalam hal pernikahan. Masih banyak lagi penyimpangan yang terjadi dalam acara pernikahan seperti: sesajen, sembelihan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan lainnya. Hendaknya setiap muslim berhati-hati, jangan sampai keyakinan dan amalannya terkotori syirik atau kebid’ahan. Sehingga dia bisa meninggal di atas tauhid dan di atas Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Walhamdulillah.
Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=641

Artikel Terkait:

Shalawat Bid’ah ‘Buatan’ SUFI
Sufi dan Karomah Wali
Keyakinan Sufi
Kesesatan Sufi
Paham Sesat Tasawuf
Hakikat Ilmu Laduni (kasyaf)
Akidah Manunggaling Kawula Gusti Di Tubuh Kaum Sufi
Membongkar Kedok Sufi : Tasawuf & Sholawat Nabi
Imam Ath Thurtusi : Kedustaan Ihya’ Ulumuddin

Keyakinan sufi

31 Mei

Kelompok Shufiyah (Sufi) telah menyebar di dunia Islam, sehingga kaum muslimin pun terbagi dua dalam menyikapi mereka. Ada yang mendukung dan ada yang menentang. Agar seseorang bisa menentukan berada di pihak yang mana dan bisa menyikapi mereka dengan benar, hendaknya ia mengetahui hakikat shufiyah yang sebenarnya. Benarkah pengakuan mereka sebagai pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu? Apakah mereka sesuai dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah?

Untuk mengetahui hakikat mereka tentunya kita harus merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih disertai penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Siapakah Shufiyah?

Perlu diketahui, Shufiyah adalah satu lafadz yang tidak dikenal pada masa sahabat, juga tidak masyhur di masa generasi utama (sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in). Mereka muncul setelah masa tiga generasi utama. Ibnu Taimiyah rahimahullahu menyebutkan awal mula munculnya shufiyah adalah di Bashrah, Irak. (Lihat Fatawa, 11/5, Haqiqatu Ash-Shufiyah hal. 13)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya bid’ah tasawuf muncul setelah tahun 200 H. Tasawuf tidak ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di zaman sahabat maupun tabi’in.” (Mushara’ah hal. 376)

Nukilan di atas menunjukkan bahwa shufiyah adalah kelompok baru dalam Islam ini.

Pemikiran Shufiyah

Bila seseorang mau adil menelaah pemikiran dan akidah amalan shufiyah, dia akan dapati banyak sekali pemikiran, akidah, dan amalan shufiyah yang menyimpang dari Islam yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai bentuk keadilan, marilah kita perhatikan apa yang akan kami paparkan mengenai beberapa penyimpangan prinsip, amalan, dan akidah shufiyah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

1. Shufiyah terpecah menjadi kelompok-kelompok atau thariqat-thariqat (tarekat-tarekat).

Ada tarekat Tijaniyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Rifaiyah, dan lainnya. Demikianlah mereka berpecah-belah, padahal Islam melarang perpecahan dan hanya mengenal satu jalan saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)

2. Sebagian shufiyah juga berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mereka berdoa kepada nabi dan wali mereka yang masih hidup maupun yang telah mati. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus: 106)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَة

“Doa adalah ibadah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu mengatakan: “Barangsiapa memalingkan satu macam ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia adalah musyrik kafir. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Al-Mu’minun: 117) [Lihat kitab Tsalatsatul Ushul]

3. Shufiyah meyakini adanya badal dan quthub, yakni orang-orang yang mereka yakini sebagai wali dan diyakini ikut andil mengatur alam1.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, serta siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31)

4. Sebagian shufiyah meyakini wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti).

Menurut mereka, tidak ada Khalik dan makhluk (Pencipta dan yang dicipta), semuanya adalah makhluk dan semuanya adalah ilah.

5. Shufiyah membolehkan berjoget sambil menabuh rebana dan berdzikir dengan suara keras.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.” (Al-Anfal: 2)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu menerangkan: “Ibnul Qayyim rahimahullahu pernah menerangkan bahwa beliau pernah melihat orang-orang shufiyah berjoget di Arafah. Beliau melihat mereka berjoget diiringi rebana. Juga melihat mereka berjoget di Masjid Khaif.” (Mushara’ah hal. 388 secara ringkas)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu juga mengatakan: “Pernah satu hari aku naik ke Masjidil Haram bagian atas. Aku dapati sekelompok besar manusia dari Turki, Sudan, dan Yaman, mereka berjoget sambil berputar-putar2….” (Musharaah hal. 387)

Di antara mereka juga adalah Muhammad Kabbani3, yang berkunjung ke Jakarta dan berdzikir serta mengajak yang hadir berjoget.

Kemudian mereka juga berdzikir dengan semata menyebut lafadz: اللهُ. Sebagian mereka hanya menyebut lafadz “hu”. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Dzikir yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah…” (HR. At-Tirmidzi)

6. Sebagian Shufiyah mengklaim tahu ilmu ghaib, padahal pengetahuan ilmu ghaib adalah kekhususan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

8. Shufiyah mengklaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari cahaya-Nya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun Al-Qur’an mendustakan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِد

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan kamu itu adalah Ilah yang Esa’.” (Al-Kahfi: 110)

Firman-Nya tentang penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalam:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad: 71)

Adapun hadits: “Yang pertama diciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jabir.” adalah hadits maudhu’ (palsu).

9. Shufiyah mengklaim bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah dilakukan karena takut kepada neraka atau mengharapkan surga.

Mereka berpendapat bahwa ibadah karena mengharapkan surga adalah kesyirikan, sebagaimana diucapkan oleh tokoh mereka Sya’rawi. (Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah hal. 20-21)

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (Al-Anbiya: 90)

Ibadah haruslah memenuhi tiga rukunnya: khauf (rasa takut), raja’ (rasa harap), dan mahabbah (rasa cinta).

10. Sebagian Shufiyah mengklaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan dunia karena Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mendustakan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yakin (ajal).” (Al-Hijr: 99)

11. Mereka membaca shalawat-shalawat yang tidak diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan shalawat-shalawat yang mengandung kesyirikan, yang tak akan diridhai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.4

12. Shufiyah mengklaim bisa melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia. Al-Qur’an menunjukkan kedustaan mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي

Dan tatkala Musa datang untuk (bermunajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.” (Al-A’raf: 143)

[Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitabi was Sunnah hal. 8-21]

________________________________________________________________________________________________

1 Keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang syirik. Lain halnya bila yang dimaksud dengan istilah ini tidak sampai pada tingkatan rububiyah (ikut mengatur alam). -red

2 Tarian ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan whirling dervish. Dervish (darwis) adalah sebutan untuk penarinya. -red

3 Muhammad Hisham Kabbani, tokoh tarekat Naqsyabandiyah Haqqani. Oleh media, ia disebut-sebut sebagai “syaikh” sufi paling berpengaruh di dunia saat ini. –red

4 Di antaranya shalawat yang mereka namakan shalawat Nariyah. Ini adalah shalawat yang berisi kesyirikan karena disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menghilangkan kesulitan, melapangkan kesusahan, dan menunaikan kebutuhan. (Lihat Al- Firqatun Najiyah)

Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=896

Hikmah Ilahi di Balik Musibah yang Melanda Rahasia Alam Ghaib dalam Islam

Artikel Terkait:

Kesesatan Sufi
Paham Sesat Tasawuf
Hakikat Ilmu Laduni (kasyaf)
Akidah Manunggaling Kawula Gusti Di Tubuh Kaum Sufi
Membongkar Kedok Sufi : Tasawuf & Sholawat Nabi
Imam Ath Thurtusi : Kedustaan Ihya’ Ulumuddin
Membujang Ala Sufi
Shalawat Bid’ah ‘Buatan’ SUFI
Sufi dan Karomah Wali

Kekeliruan pembagian hakikat dan syari’at ala sufiyah

31 Mei

Sebagian kalangan tarikat Sufiyah membagi Islam menjadi 2 bagian, yaitu syariat & hakikat. Atau zhahir & batin.

Ibnul-Jauzi rahimahullah menjelaskan: “Banyak kalangan Sufi nan membedakan (agama) menjadi hakikat & syariat”. (*1)

Yang dimaksudkan dgn syariat –menurut kaum Sufi- yaitu perkara apa saja nan diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya tanpa memerlukan adanya pentakwilan. Mereka menyebutnya dgn nama ilmu zhahir atau ilmu syariah. Menurut kalangan Sufi, golongan nan mengimani nash-nash syariat tanpa menggunakan takwil ini, masuk ke dlm kategori kelompok awam. nan termasuk dlm klasifikasi ini -menurut kaca mata mereka- yaitu para imam empat, seluruh ulama fiqih (fuqaha), & ulama hadits.

Adapun pengertian al-haqiqah (hakikat), yaitu bisikan-bisikan hati & mimpi-mimpi kaum Sufi, nan mereka yakini sebagai takwil (penafsiran) ilmu syariat. Ilmu ini dikenal dgn istilah ilmu bathin, & para pemiliknya pun disebut ahlul-bâthin. Mereka inilah –menurut kalangan Sufi- nan dikategorikan sebagai manusia-manusia khâsh, nan menyandarkan cara pengamalan agama pada penakwilan nash-nash syariat. Bahkan kata mereka, ilmu bathin tersebut lebih tinggi daripada ilmu syariah.

Mereka melabeli para ulama syariah dgn sebutan nan merendahkan. Seperti ‘al-’awwaam’ (orang-orang awam), ahlu zhahir, al mahjubun (kaum nan terhalangi dari ilmu). Bahkan, kata ahlu syubuhat & hawa nafsu pun mereka lekatkan pada ulama syariah.

Asy Syaranimenukil riwayat dari seorang tokoh Sufi, Nashr bin Ahmad ad Daqqaq, ia berkata: “Kesalahan seorang murid ada 3: menikah, menulis hadits & bergaul dgn ulama syariah”.

Lain lagi dgn Syaikh Hamd an Nahlan at Turabi. Sebelumnya ia menyibukkan diri dgn mengajar ilmu fiqh. Akan tetapi, pasca mengenal tarikat,menghabiskan waktunya selama 32 bulan utk berkholwat. Murid-muridna pun memintanya utk kembali mengajar. Akan tetapi ia menjawab: “Saya & al Khalil (nama seorang ulama fiqih besar) terlah berpisah sampai hari Kiamat” (*2)

HAKIKAT “ILMU HAKIKAT” SUFIYAH
Menurut seorang tokoh Sufi nan bernama Ibnu ‘Ajîbah (*3), bahwa orang nan membagi agama menjadi hakikat & syariat ialah Nabi.

Menurut Ibnu ‘Ajîbah, Allah mengajarkannya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui wahyu & ilham. Malaikat Jibril datang pertama kali membawa “syariat”. Dan tatkala “syariat” sudah mengakar, maka Malaikat Jabril turun utk kedua kalinya dgn membawa “haqiqat”. Tetapi hanya sebagian orang nan memperolehnya. Dan orang nan pertama kali memunculkannya ialah Sayyiduna ‘Ali. (*4)

Anggapan & keyakinan seperti ini, tentu merupakan pemikiran bid’ah model baru. Karena sejak awal, kaum Muslimin tak pernah mengenal pembagian ini. Kaum Muslimin tak pernah memikirkannya, apalagi sampai mengakuinya. Benih pembagian agama menjadi “hakikat” & “syariat” ini sebenarnya tumbuh dari sekte Syi`ah nan mengatakan bahwa setiap segala sesuatu memiliki sisi zhahir & batin. Sehingga –menurut kaum Sufi- demikian pula dgn Al-Qur`an, ia mempunyai sisi zhahir & batin. Setiap ayat & kata-katanya memuat pengertian zhahir & batin. Sisi batin itu tak terdeteksi kecuali oleh kalangan hamba Allah nan khusus (kaum khawâsh), nan –konon- Allah mengistimewakannya dgn karunia ini, bukan kepada orang selain mereka. (*5)

Oleh karena itu, kalangan Sufi nan memegangi bid’ah ini, mereka telah mengikuti jalan ta`wil, sehingga “terpaksa” banyak menggunakan bahasa-bahasa & istilah nan biasa dipakai orang-orang Syi`ah.

KONSEKUENSI ADANYA “HAKIKAT” DAN “SYARIAT”
Keyakinan nan telah mengakar pada sebagian penganut Sufi ini, memunculkan banyak konsekuensi buruk. Mulai dari berdusta terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam & juga kebohongan terhadap para sahabat, terutama sahabat Abu Bakr, ‘Umar, & Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Beberapa konsekuensi ini mungkin saja tak mereka sadari, atau bahkan mereka tolak, akan tetapi, demikianlah adanya.

Misalnya tentang kedustaan terhadap Allah Ta’ala,. Yaitu, mereka melakukan pembagian agama menjadi “hakikat” & “syariat” itu turun dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya dgn perantaraan Malaikat Jibril Alaihissalam. Sedangkan kedustaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa adanya pembagian ini telah menyiratkan tuduhan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan kitmânul-’ilmi (menyembunyikan sebagian ilmu) & tak menjalankan amanah tabligh secara penuh. Padahal, terdapat ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala atas orang-orang nan menyembunyikan ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang nan menyembunyikan apa nan telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) & petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dlm Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah & dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) nan dapat melaknati”. [al- Baqarah/2:159].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa nan ditanya ilmu, kemudian ia menyembunyikannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membelenggu mulutnya dgn tali kekang dari neraka pada hari Kiamat kelak” [HR Abu Dawud].

Sehingga tak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan sebagian ilmu. Anggapan itu, nyata merupakan pendapat nan mengada-ada. Ilmu apakah nan beliau sembunyikan? Padahal saat haji Wada`, beliau n telah mempersaksikan tentang tugasnya nan sudah disampaikannya secara utuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah menegaskan kesempurnaan Islam dlm Al-Qur`ânul-Karim.

Adapun lontaran kebohongan terhadap para sahabat, yaitu anggapan bahwa para sahabat Radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang sesat, bodoh, & tak mengenal ilmu hakikat nan dapat mendekatkan manusia kepada mahabatullah. Lontaran ini tentu merupakan kedustaan. Sebab mengandung hujatan nan meminggirkan peran para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, & hanya menempatkan Sahabat ‘Ali sajalah nan telah berperan dlm masalah ini, meskipun hakikatnya mereka pun berdusta atas nama Sahabat ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu.

Secara khusus, kedustaan ini memuat 2 permasalahan.

Pertama: Yakni semakin menguatkan adanya benang merah antara Sufi & Syi’ah.
Kedua: Kedustaan ini merupakan petunjuk adanya hasad terpendam terhadap agama Islam. Karena pembagian agama dlm 2 kutub “syariat” & “hakikat”, di dalamnya mengandung usaha utk menjauhkan umat Islam dari generasi terbaiknya, yaitu para sahabat Radhiyallahu ‘anhum nan mulia.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kaum Muslimin utk memahami agama Islam dgn cara nan benar.

Marâji`:
– Hâdzihi Hiyash Shûfiyah, Syaikh ‘Abdur-Rahmân al-Wakîl.
– Ijtimâ Juyûsyil-Islâmiyyah lil-Imam Ibnil-Qayyim ma’a Mauqifihi min Ba’dhil-Firaq, Dr. ‘Awwâd bin ‘Abdullah al-Mu’tiq, Maktabah Rusyd, Cetakan III, Tahun 1419 H – 1999 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Referensi
(*1). Naqdul-‘Ilmi wal-‘Ulama, hlm. 246-247.
(*2). Târîkh Baghdâd (2/331)
(*3). Ahmad bin Muhammad bin al Mahdi bin Ajîbah, dia adalah seorang tokoh Sufi, meninggal pada tahun 122H. Dia menulis sebuah kitab berjudul Iqâzhul-Himami fi Syarhil-Hikam.
(*4). Iqâzhul-Himami fi Syarhil-Hikam (1/5). Dikutip dari halaman 149 Ijtimâ’ Juyûsyil-Islâmiyyah lil- Imam Ibnil-Qayyim ma’a Mauqifihi min Ba’dhil-Firaq, Dr. ‘Awwâd bin ‘Abdullah al-Mu’tiq
(*5). Mengenai aliran Bathiniyah, lihat kupasannya di Majalah As-Sunnah, Edisi 01/Tahun X/1427 H/2006 M, hlm. 54-57.
sumber: http://www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Minhâl tags: Al Khalil, Ilmu Bathin, Kaca Mata, Bin Ahmad, Apa Saja

Ilmu kebatinan

31 Mei

Sufiyah (merupakan kelompok beraliran tasawwuf) terkadang berani memalsukan hadits atas nama Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- demi menguatkan ajaran mereka dan menipu orang awwam. Di antara hadits-hadits yang mereka palsukan:

عِلْمُ الْبَاطِنِ سِرٌّ مِنْ‏‎ ‎اَسِرَارِاللهِ عَزَّوَجَلَّ‏‎ ‎وَحُكْمٌ مِنْ اَحْكَامِ اللهِ‏‎ ‎يُقْذِفُهُ فِيْ قُلُوْبِ مَنْ‏‎ ‎يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

“Ilmu batin adalah rahasia di antara rahasia-rahasia Allah dan hukum di antara hukum-hukum Allah, Allah melemparkannya ke dalam hati orang yang dikehendaki-Nya dari kalangan hamba-hamba-Nya.” [HR. Ad-Dailamy dalam Al-Firdaus (3/290 –Az-Zuhar)]

Hadits ini palsu karena orang-orang yang meriwayatkannya tidak dikenal (majhul), terlebih lagi hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ad-Dailamy. Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- menghukumi hadits ini palsu dalam Dho’if Al-Jami’ (3724).

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 8 Tahun I.

Lihat: http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/ilmu-batin.html

Beberapa pokok kesesatan ajaran sufi

31 Mei

Sesungguhnya Ahli bid’ah telah meletakkan beberapa pokok ajarannya sejak awal perkembangannya. Oleh karena itu seseorang tidak akan mengerti hakikat tasawuf kecuali setelah melihat beberapa pokok ajarannya, maka, dalam tulisan ini cukuplah menyebutkan beberapa pokok ajarannya. Dan itulah yang terpenting !.
Maksudnya tulisan ini setidaknya bisa mengingatkan kepada umat Islam agar berhati-hati dan tidak terjerat oleh jarinngan bid’ah mereka. Sebab saaat ini para Da’I (pendakwah) Sufi ( tarekat) tengah gencar-gencarnya menyebarkan bid’ahnya. Dan tidak sedikit dari kalangan muslimin yang masih bodoh-belum tahu hakekat kesesatan sufi-yang terpedaya dengan bualan mereka.
Beberapa pokok ajaran tasawuf diantaranya:

1.      Thariqoh

Yang dimaksud adalah hubungan murid (seseorang yang berkehendak untuk sampai kepada Alloh dengan jalan dzikir dan memelihara dzikir tersebut) dengan syaikh (guru)nya. Baik Syaikh tersebut masih hidup maupun mati. Caranya, dzikir waktu pagi dan petang hari sesuai dengan izin sang Syaikh-nya tersebut. Ini harus dilakukan secara Iltizam (konsisiten) berdasarkan perjanjiannya. Dalam perjanjiannya, Syaiakh menyelamatkan sang murid dari segala petaka dan mengeluarkan dari segala macam cobaan. Sang Syaikh  mendoakan melalui istghotsah kepadaNya, serta ia akan memberi syafaat pada hari kiamat dengan memasukkannya ke surga. Sedangkan bagi sang murid, hendaknya ia Iltiam selama hidupnya dengan wirid beserta adabnya, seperti halnya ia harus senantiasa iltizam terhadap amalan-amalan tarekat dan tidak boleh beralih kepada tarekat lainnya.

2.      Syaikh pemberi izin wirid

Dari beberapa pokok tarekat sufi, yakni mementingkan keberadaan syaikh atau yang mewakilinya) yang memberikan bacaan wirid bagi muridnya. Keberadaan Syaikh merupakan salah satu wahana untuk menjaring muslim awam dan orang-orang bodoh dari kalangan mereka sendiri, Dengan demikian mereka bisa diperdaya guna kepentingan syaikhnya. Selain itu mereka menjadi ‘tersihir’ untuk mencurahkan semua potensi harta dan fisiknya bagi syaikh atau yang mewakilinya.

Sesungguhnya keberadaan syaikh itu, menurut syariat bisa dibenarkan.melalui Syaikh (yang memiliki ilmu dan tahu jalan menuju Alloh) itulah yang bisa diambil ilmunya dan mencontohnya. Hingga terbentuklah kesempurnaan jiwa lantaran bimbingannya dalam Islam, yang demikian ini adalah perkara yang terpuji dan dituntunkan syar’i. Karena tidaklah mungkin seseorang tahu tentang Alloh, tentang apa yang dicintai dan dibenciNya, dan mengetahui bagaimana cara beribadah serta mendekatkan diri kepadaNya, Hal ini akan terlaksana secara baik jika seorang menjadi murid seorang Syaikh yang alim dan berilmu. mau belajar kepadanya dan dididik dibawah pengawasan syaikh tersebut.

Suatu kesalahan, yakni jika belajar kepada syaikh yang memberi syarat dengan wirid dan amalan-amalan tarekat, apalagi syaikhnya tersebut adalah seorang yang bodoh ( dalam ilmu agama-red) bahkan bisa jadi buta huruf !!. Hal ini nyata adanya di masyarakat kita. Sebab, banyak diantara syaikh kalangan sufi tarekat ternyata mereka adalah buta huruf. Kalaupun mereka mengetahui suatu maka hanyalah sebatas rukun Islam seperti shalat !!!. Dalam kalangan tarekat, seorang syaikh berwenang memberikan wirid/amalan hanya sebatas wirid dan amalan yang ia miliki. Dan itu pun diberikan kepada muridnya setelah muridnya berkhidmat kepadanya dalam suatu proses yang panjang. Setelah itu sang murid diberi gelar syaikh dan diberi hak izin untuk memberikan wirid yang telah diterimannya kepada orang lain.

Itulah sisitem pewarisan ilmu mereka. Ironisnya, mereka justru menyatakan batil terhadap orang yang memakai sanad dalam periwayatan hadits yang sampai kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , yakni sebagaimana lazimnya digunakan oleh pada ahli hadits. Bahkan, ada dari kalangan tarekat yang berceloteh, bahwa tidak perlu menggunakan silsilah sanad (dalam hadits-red) karena aib bagi mereka, sebab bagi kalangan tarekat mereka memakai metode langsung dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dalam keadaa terjaga bukan dalam keadaan tidur apalagi bermimpi, sebagaimana perkataan Ahmad At Tijani (pendiri tarekat tijaniyah) dalam Jawahiru Al Ma’ani (hal 97) dia berkata,” adapun sanad dalam tarekat muhammadiyah (maksudnya at-Tijaniyah) bahwasannya Ia mengabariku:.” Sesungguhnya kami telah mengabari dari para syaikh tapi Allah belum menakdirkan dari mereka apa yang kami kehendaki. Namun sunggup sayyid kami, ustadz kami dalam hal ini adalah sayyidul wujud (penghulu segala yang ada) yakni nabi Sholallahu laihi Wassalam, Dan Alloh telah menakdirkan dibukannya kepada kami dan sampainya kami kepada Belaiu Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam . Serta kami pun tidak akan berpaling kepada selainya kepada masyaikh lainnya. Adapun dalam hal keutamaan pengikutnya (yakni pengikut tarekat Tijaniyah), Sayyidul Wujud (tang dimaksud adalah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam) telah berkata barangsiapa mencintainya (yakni mencintai ahmad bin Muhammad At Tijani), maka ia termasuk Kekasih Nabi, Dan tidaklah ia akan mati, kecuali setelah benar-benar menjadi seorang wali.”

Dan yang lebih mengherankan lagi dalam dunia tarekat, mensyaratkan bagi syaikh yang menjadi murabbi yang memiliki kewenangan khusus harus memiiliki sifat sempurna. Padahal yang demikian tidak mungkin dimiliki sekalipun oleh sebagian para nabi. Berdasarkan persyaratan semacam ini, mereka menetapkan bagi pemimpin-pemimpin tarekat untuk memberi wirid dan mengarahkan. Dan sungguh, tidak ada sama sekali pada mereka sifat-sifat sempurna wlaupun hanya sepersepuluh atau bahkan seperseratusnya. Sehubungan dengan hal itu, perlu dinukil kementar At Tijani, Jawahiru Al Ma’ani Juz II hal 185,” Adapun hakekat Syiakh washil (syaikh yang berperan sebagai penghubung), yaitu telah berhasil menyingkap semua hijab (penghalang) secara sempurna guna melihat keberadaan tuhan dengan mata kepadalnya sendiri, dan benar-benar atas dasar keyakinan. Tingkatan demikian diawali dengan muhadharah (menghadirkan sang syaikh), yakni dengan cara menelaah dari balik tabir tebal tentang hakekat yang ada, Berikutnya mukasyafah yakni menelaah hakekat dari tabir tipis. Kemudian Musyahadah, yaitu melihat hakekat dengan tanpa tabir penghalang, yang ini tentunya dengan kekhususan. Bila telah demikian artinya seseorang telah mencapai kedudukan  yang paling tinggi, yakni kedudukan yang membatalkan dan menghapuskan (syariat), serta telah mencapai proses melebur dan menyatu (fana’ Al fana’). Tidaklah mencapai derajat ini kecuali dengan pertolongan Al Haq didalam AL Haq dan dengan Al Haq. Maka tidaklah tersisa sesuatu kecuali Alloh dan (menyatu) dengan-Nya. Maka tahapan ini tidak ada lagi istilah yang dihubungi atau yang menghubungi.” Sampai ucapannya,” maka, inilah syaikh yang patut dimintai. Bila seorang murid melihat rahasia sifat seperti ini, maka lazim baginya untuk menyerahkan diri kehadapan sang syaikh sepertimayit dihadapan yang memandikannya. Dia tidak memiliki hak memilih, berkemauan, meberi dan berfaedah. Oleh karena itu bila diisyaratkan kepadanya suatu amalan atau suatu perkara maka jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan, kenapa, bagaimana, bukankah, untuk apa. Karena pertanyaan itu membuka pintu kebencian dan pengusiran.”

3.      Perjanjian atau Baiat, jabat Tangan, dan Talqin

Termasuk pokok ajaran tasawuf adalah ikrar janji setia (baiat) seorang murid kepada sang syaikh tarekat, atau yang mewakilinya. Baiat itu meliputi ksanggupan untuk iltizam (konsisten) dalam mengamalkan wirid, ketaatan, dan cinta. Selain itu, dibaiat pula untuk iltizam dengan kelompok tarekatnya serta tidak boleh beralih ke kelompok tarekat lainnya sampai mati. Pelaksanaan baiat itu dengan cara meletakkan tangan diatas tangan syaikh sambil mengenggamkan jari jemarinya diatas jari sang syaikh, seraya memejamkan mata. Kemudian sang syaikh menuntunkan kata-kata,” Sya berjanji utuk beriltizam berwirid dengan syarat-syarat…” kemudian sang syaikh memebrikan wirid. Dengan amalan tqlid ini mereka membuat kata-kata perjanjian, baiat, berjabat tangan dan talqin.

Sesungguhnya baiat adalah sesuatu yang disyariatkan, yakni sebagaimana Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam pernah membaiat para Shohabat rodliallohu anhum . Adapun baiat yang dilakukan kepada imam adalah bid’ah, seperti kelompok tarekat dan kelompok sempalan lainnya, diadakan guna menjaring kaum muslimin awam dan orang-orang yang bodoh dangkal ilmu agamanya. Dengan baiat ini, dimaksudkan agar bisa memberikan bekas (atsar) pada jiwa mereka (yang akan bergabung dengan kelompoknya). Hingga mereka bisa dikendalikan/diatur  dan mentaati hukum dan aturan sang syaikh, inilah hakekat baiat orang tasawuf taarekat.

Adapun talqin yang dilakukan dengan memejamkan mata seraya mengenggam jari merupakan perbuatan bid’ah. Talqin dilakukan semata penipuan belaka. Dengan talqin seakan-akan adalah hal ritual keagamaan yang khusus. Hingga semakin sempurnalah penanaman atsar (pengaruh) kepada jiwa orng-orang awam agar mereka terjerat dalam jaringan sesat mereka. Dengan cara itu,mereka bisa menguasainya dengan mengatasnamakan syaikh, baiat, dan tarekat. Sepertinya wirid yang disyariatkan sang syaikh, maka baiat, talqin, dan ritual tarekat lainnya dalah bid’ah.

4.      Wirid Sufi (antara Haq dan Batil)

Wirid yang dimaksud, seorang Muslim mengamalkan ibdah sunnah dan berjanji utnuk mengamalkannya selama hidupnya.
Wirid bagi pengikut tarekat, baik berupa dzikir atau doa yang diberikan oleh syiakh (atau orang yang diberi wewenang) atau orang yang mewakilinya, diberikan kepada murid agar bersih batinnya dan bisa sampai ke derajat mukasyafah, musyahadah dan fana’ dalam dzat Allah [sehingga tidak ada sebutan ’Penyambung’ dan ‘yang disambung’ atau washil dan maushul. Lantaran hamba dan Allah telah menyatu.
Dalam doa yang diajarkan kaum tarekat tidak lepas dari kata-kata syirik, kufur, bid’ah sepereti tawassul dengan orang yang telah mati, beristighotsah kepada mayit dan berdoa kepada selain Alloh.

Dzikir mereka ada yang haq disyariatkan Islam), seperti kalimah thayyibah la ilaha illallah) mereka namakan sebagai zikir umum, dan ada pula dzikir yang tidak disyariatkan Islam, hanya karangan orang pengikut tarekat seperti lafadz alla, Allah yang diucapkan berulang kali dengan jumlah tertentu, atau melafalkan kata hayyun, hayyun dan semisalnya. Mereke namakan sebagai dzikir khusus (masing-masing tarekat memiliki dzikir khusus sendiri-sendiri) bahkan ada yang mengucapkan huwa,huwa (Dia, Dia) yang mereka namakan dzikir khusus yang paling khusus (khos Al Khos).

Perhatikanlah !! bagaimana mereka membagikan dzikir menjadi dzikir umum, dizikir khusus dan dzikir paling khusus. Kita berlindung kepada Alloh Azza wa Jalla kadi kesesatan nyata dan kita berlepas diri dari kebohongan yang jelas.

5.      Khalwah

Khalwah, bila seorang menyendiri (menjauhi keramaian manusia), menurut istilah tarekat sufi khlawah berarti menyendirinya seorang murid, dengan izin syaikhnya dan dibawah pengawasan dan bimbingannya ditempat-temat tertentu (missal dilubang yang digali dalam tanah atau ditempat masuk antara pintu dan tengah rumah (dilhiz) selama kurangd ari sepuluh malam dan tidak lebih dari empat puluh malam) Mereka berdalil dengan tahanuts-nya Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam di Goa Hira’ sebelum diutus sebagai Rosul Alloh.

Adapun masa sepuh malam, mereka berdalil berdasar masa iktikaf Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam di bulan Ramadhan. Sedang yang menjadi dalil mereka untuk khalwah selama empat puluh malam adalah berdasar masa janji Alloh kepada nabi Musa Alaihi Sallam, ‘ Dan ingatlah, ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sesembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang dzalim.” [QS baqoroh 51].

Diantara kebd’ahan khalwah tarekat sufiyah, diantaranya :

Pelaksanaannya di tempat gelap, berapa banyak murid dan pengikut tarekat setelah berkhalwah menjadi tidak beres ucapan, amalan, pikirannya seperti orang gila
Selama kholwah, senantiasa diam, padahal yang semacam ini telah dilarang oleh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam berdasar hadits  tentang peristiwa Abu Israil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori, bahwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam melihat seorang lelaki berdiri dibawah terik matahari, kemudian Beliau menanyakan kepada para Sahabat,” Sedang apa ini ?” Para Sahabat menjawab,” Abu Israil tengah melaksanakan nadzar. Ia (abu Israil) akan berdiri dibawah terik matahari (berjemur) dan tidak mau berteduh, tidak mau berbicara, serta berpuasa.” Maka Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam memerintahkan padanya untuk duduk, berteduh, berbicara  dan tetap (menyempurnakan) puasanya.

Pelaksanaan Khalwah jauh dari indra manusia, dan suara manusias sangat menyakitkan mereka, sehingga menjadikan mereka membuat lubang dengan menggali tanah, dengan suanana yang gelap, dan inilah bid’ah yang munkar.

Seorang murid tidka boleh memikirkan apapun ketika berkhalwah, baik memikirkan makna ayat Al Qur’an atau Sunnah, sebab yang demikian bisa mengganggu wirid haqiqi yang memerlukan dzikir dan khalwah. Ini adalah persyaratan yang rusak dan bathil karena syariat Islam tidak menetapkannya.

Seorang murid tidak dibolehkan masuk atau keluar khalwah, kecuali dengan idzin Syaikh murobbi, Sedangkan apabila berhadapan dengan Syaikhnya hendaklah bersikap seperti mayit saat dimandikan. Tidak berpendapat, berinisiatif, atau membantah. Inliah bentuk pemasungan terhadap nilai kemanusiaan seorang muslim.
Senantiasa ada keterkaitan hati kepada Syaikh dengan disertai I’tiqod.

6.      Kasyaf (Kontemplasi)

Hakekat kasyaf ialah terbukanya hati dari cahaya ghaib pada seorang sufi lantaran telah mencapai tingkat ma’rifat. Yang demikian tidak bisa diterima dengan akal, tetapi hanya bisa diterima  hati. Dibalik martabat kasyaf ada martabat lain yakni at-tajalla yaitu nampaknya dzat ilahiah di mata wujud yang dzahir.

Sesungguhnya proses kasyaf dan at-tajalla akan berujung pada hulul dan wihdah al wujud (proses bersatunya hamba dengan Allah), setelah menyatu pada sisi orang yang bersangkutan maka lantas ia mengaku sebagai Tuhan secara mutlak, wal ‘iyadzu billahi.

7.      Al fana’

Inti ajaran fana’ senantiasa memperbanyak dzikir hingga mencapai ketentraman hati yang terdalam, mereka berhujjah degan ayat,” katakanlah dengan dzikir kepada Allah hati akan tentram  [QS ar Ra’du 28].

Dzikir yang dilakukannya hingga tertimpa lalai dengan dunia dan kemudian mabuk dengan yang dicintainya. Kemudian, fana’ dari alam, artinya ia tidak melihat sesuatu. Dan berikutnya ia mencapai derajat  fana’ dari al fana’. Dalam batas demikian, ia telah berhasil mencapai tingkat pembatal atau penghapus syariat. Tahap ini menjadikan hancurnya semua gambar dan bayangan,d an hapusnya semua pengaruh. Maka tidaklah tersisa kecuali haq dalam Haq untuk Haq dan dengan Haq. Mereka mendefinisikan fana’ ialah habis dan menjadi rusaklah alam besama wujudnya. Dalam pandangan mereka, bahwasanya ia sirna dari nisbah perbuatan atasnya. Atau, jadilah ia wali dengan sendirinya dan dia ia tidak saksikan kecuali dalam alam ini kecuali hanya Allah saja. Hal ini seperti diibaratkan seseorang tidak bisa melihat bintang di siang hari lantaran telah terbitnya matahari.

Adapun lalai hilang diri, mabuk, fana’, fana’ al fana’, pembatal/penghapus syariat semuanya adalah awal kebohongan, kerusakan, dan kebatilan. Hingga hal tersebut menhasilkan sesuatu yang rusak dan jahat yakni hulul, wihdah al wujud. Dikatakannya, apabila seorang murid telah mencapai derajat ini, maka tidak ada yang ia saksikan kecuali hanyalah Allah. Maka jadilah semua alam ini Allah- menurut prasangka mereka. Semoga Allah menghancurkan mereka dan melaknatnya. Kenap mereka buta dengan firman Alloh Azza wa Jalla ,” Tidaklah ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi maha Melihat.”[QS Asy Syuro 11], dan firman-Nya,” Katakanlah :’Dialah Allah, Yang Maha Esa.” [QS Al Ikhlas 1], dan firmanNya,” Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” [QS Al Ikhlas 4].

8.      Zhahir dan Batin, Syari’at dan Hakekat

Diantara kebid’ahan sufi yakni adanya pembagian ilmu menjadi zhahir dan batin, dan pembagian agama menjadi syari’at dan hakekat. Mereka menisbatkan bahwa Islam adalah tarekat (jalan,cara), Sedangkan tarekat hanyalah washilah (sarana), dan buahnya adalah hakekat. Inilah kesesatan Sufi mereka membagi-bagi Islam sesuai hawa nafsu mereka diatas kebodohan. Mereka buta terhadap sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,” Hendaklah kalian berhati-hati dengan sesuatu yang baru. Maka sesungguhnya sesuatu  yang baru (dalam agama) adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat, dan kesesatan pasti di neraka.” {HR Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, Shahih Jami’ Ash-Shagir no 2549). Dan Sabda belia,” Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan kami (yakni Islam), padahal hal itu tidak pernah kami perintahkan, maka hal itu pasti tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih, Shahih Jami’ Ash Shagir 5970).

wallahu ta’ala ‘alam

Diterjemahkan dan ringkas dari Ila Tashawwuf Ya ‘Ibadallah, oleh : Syaikh Abubakar jabir Al Jazairi.dilarang mengkopi kecuali menyertakan www.al-aisar.com sebagai sumbernya

Tahlilan sarana silaturahmi ?

7 Mei

Sebagian orang membolehkan tahlilan orang meninggal karena ia dianggap sebagai ajang silaturahmi antar sesama warga yang sangat jarang bertemu disebabkan kesibukan mereka masing-masing.

Jawaban atas pendapat ini adalah sebagai berikut:

Acara tahlilan memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal bukanlah merupakan bagian dari syariat Islam sama sekali. Buktinya, betapa banyak kaum muslimin yang meninggal pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم hidup, namun tidak ada satu riwayat yang shahih pun yang menerangkan bahwa beliau menyelenggarakan acara tersebut. Beliau juga tidak pernah mengajarkan para sahabat mengenai hal ini. Oleh karena itu, tidaklah boleh bagi kita untuk melakukan ritual ibadah yang tidak pernah dilakukan atau diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم karena hal tersebut dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Apabila kita ingin melakukan silaturahmi dengan masyarakat, maka Islam sendiri telah mengatur tata caranya, di antaranya adalah dengan mengucapkan salam bila bertemu, saling mengunjungi, menghadiri shalat berjamaah di mesjid, bergotong royong, menjenguk tetangga yang sakit, dan lain sebagainya. Masih banyak cara syar’i yang bisa kita tempuh, tanpa harus melakukan hal-hal yang dilarang di dalam Islam. Kalau memang tahlilan itu bermanfaat sebagai ajang silaturahmi dan baik di mata syariat, niscaya Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat pasti telah membuat tahlilan setiap ada yang meninggal.

Perlu diketahui, bahwasanya bukan hanya ibadah yang perlu mencocoki syariat, akan tetapi kebudayaan dan kebiasaan pun haruslah tidak boleh sampai menyelisihi syariat. Apabila kita menjumpai penyelisihan syariat di dalam suatu budaya atau kebiasaan maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya karena kita selaku hamba Allah dituntut untuk taat kepada hukum-Nya.

وبالله التوفيق