Arsip | Tahlilan / Selamatan kematian menurut hasil muktamar NU ke – 1 RSS feed for this section

Tahlilan / Selamatan kematian menurut hasil muktamar NU ke 1

7 Mei

Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/ 21 Oktober 1926 Mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan kematian adalah bid’ah yang hina , Namun Nahdliyin generasi berikutnya menganggap pentingnya tahlilan tersebut sejajar (bahkan melebihi) rukun Islam .. Sekalipun seseorang telah melakukan kewajiban-kewajiban agama , namun tidak melakukan tahlilan , akan dianggap tercela sekali . Di majalah al-Mawa’idz yang diterbitkan oleh NU pada tahun 30-an , menyitir pernyataan Imam al-Khara’ithy yang dilansir oleh kitab al- Aqrimany disebutkan : “al- Khara’ithy mendapat keterangan dari Hilal bin Hibban r.a, beliau berkata : ” Penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari perbuatan orang- orang jahiliyah “. kebiasaan tersebut oleh masyarakat sekarang sudah dianggap sunnah , dan meninggalkannya berarti bid’ah , maka telah terbalik suatu urusan dan telah berubah suatu kebiasaan ” . (al- Aqrimany dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal . 286) . Dan para ulama berkata : “ Tidak pantas orang Islam mengikuti kebiasaan orang Kafir , oleh karena itu setiap orang seharusnya melarang keluarganya dari menghadiri acara semacam itu ”. (al- Aqrimany hal 315 dalam al- Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285) masih di di majalah al-Mawa’idz yang diterbitkan oleh NU pada tahun 30-an itu , bahwa mengadakan perjamuan di rumah keluarga mayit berarti telah melanggar tiga hal :

1 . Membebani keluarga mayit
walaupun tidak meminta untuk menyuguhkan makanan , namun apabila sudah menjadi kebiasaan , maka keluarga mayit akan menjadi malu apabila tidak menyuguhkan makanan .

2 . Merepotkan keluarga mayit
sudah kehilangan anggota keluarga yang dicintai , ditambah pula bebannya .

3 . Bertolak belakang dengan hadits
Menurut hadits ,justeru kita (tetangga) yang harus mengirimkan makanan kepada keluarga mayit yang sedang berduka cita , bukan sebaliknya .” Bila diantara saudara kita menghadapi musibah kematian , hendaklah sanak saudara menjadi penghibur dan pengat kesabaran , sebagaimana Rasulullah memerintahkan membuatkan makanan bagi keluarga yang sedang terkena musibah tersebut , dalam hadits : “ Kirimkanlah makanan oleh kalian kepada keluarga Ja’far , karena mereka sedang tertimpa masalah yang menyesakkan ”. (HR Abu Dawud (Sunan Aby Dawud, 3/195) , al-Baihaqy (Sunan al-Kubra, 4/61) , al- Daruquthny (Sunan al- Daruquthny, 2/78) , al- Tirmidzi (Sunan al-Tirmidzi, 3/323) , al- Hakim (al- Mustadrak, 1/527) , dan Ibn Majah (Sunan Ibn Majah , 1/514) .

(al-Mawa’idz 😛 angrodjong Nahdlatoel‘Oelama Tasikmalaya , hal 200)

Iklan