Arsip | Menyebut para sahabat nabi dngn tambahan Rodhiyallohu’anhu berarti bid’ah ? RSS feed for this section

Menyebut para sahabat nabi dngn tambahan Rodhiyallohu’anhu berarti bid’ah ?

23 Apr

Menyebut para sahabat nabi dngn tambahan Rodhiyallohu’anhu tidaklah bid’ah .Hal ini merupakan salah satu bentuk pengamalan dari firman Allah:

(والذين جاؤوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا  الذين سبقونا بالإيمان )

“sedangkan orang-orang yg datang setelah mereka (yakni setelah kaum muhajirin dan anshar) mengatakan: Rabbana, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yg telah mendahului kami dalam keimanan (maksudnya para sahabat tadi)…” Al Hasyr: 10.

Dlm Tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan sebuah atsar dari Aisyah yg menyindir orang-orang yg mencela sahabat Nabi, Aisyah mengatakan: “Kalian diperintahkan agar memintakan ampun bagi para sahabat, namun kalian justru mencaci mereka” (HR. Al Baghawi).

Dlm shahih Muslim (no 3022) ada hadits senada yg menyebutkan bhw Aisyah berkata kepada Urwah keponakannya, “Wahai keponakanku, mereka disuruh memohonkan ampun bagi para sahabat Nabi, namun mereka justru mencaci maki para sahabat”.

Nah, perintah ini berlaku untuk orang-orang setelah para sahabat berdasarkan konteks ayat tsb, makanya istilah radhiyallahu ‘anhu/ha/huma/hum baru dikenal setelah zaman sahabat.                                                   Dan perintah untuk meminta ampun sifatnya umum, bisa dengan lafazh ghafarallaahu lahu/ha/huma/hum… bisa pula dengan yg semakna. Bahkan ucapan radhiyallahu ‘anhu lebih tepat dan lebih agung maknanya… karena itulah yg diajarkan secara tersirat oleh Allah dalam ayat:

( لقد رضي الله عن المؤمنين إذ يبايعونك تحت الشجرة… الآية )

“Allah sungguh telah ridha kepada kaum mukminin yg berbai’at kepadamu di bawah pohon…” Al Fath:18.

Karenanya, kitapun mengatakan: “Radhiyallaahu ‘anhum” (yg bisa bermakna khabar dan bisa pula bermakan du’a). Artinya bila memang orang tsb telah diridhai oleh Allah berdasarkan nas-nas yg ada, spt ahli badar, 10 sahabat yg dijamin surga, ahli bai’aturridhwan, dan semisalnya; maka kata Radhiyallahu ‘anhu/ha/huma/hum berarti khabar, alias menegaskan kembali bhw Allah telah meridhai mereka (walaupun bisa juga diniatkan doa, karena mendoakan sesama mukmin adalah ibadah).

Namun bila sahabat yg dimaksud adalah selain dlm kriteria tadi, maka radhiyallaahu ‘anhu/ha/huma/hum lebih bermakna doa, alias semoga Allah meridhainya.

Dan ini berarti mengamalkan ayat 10 surat Al Hasyr tadi.
Apalagi jika kaum muslimin telah sepakat melakukan hal tsb, maka jelas ini merupakan dalil yg sangat kuat, yg memastikan bahwa perbuatan ini bukanlah bid’ah sama sekali. Sebab di antara definisi bid’ah ialah “tidak ada dalilnya, dan tidak sesuai dengan maqashidus syari’ah”, jadi kita harus perhatikan semua definisi/kaidah yg dirumuskan para ulama ttg bid’ah, jangan hanya dipakai sebagian dan melupakan sebagian lainnya…

di sunting dari soal jawab Abu Hudzaifah Al Atsary