Arsip | Ahlus sunnah tidak memiliki nama RSS feed for this section

Ahlus sunnah tidak memiliki nama

4 Mei

Ahlus Sunnah memiliki karakteristik yang berbeda dengan ahli bid’ah dari segi penamaan. Ahlus Sunnah tidak memiliki nama dan julukan kecuali Islam dan dilalah(signifikasi)nya.

Ahlus Sunnah tidak pernah menisbatkan diri kepada seorang pun dan tidak menjadikan suri tauladan dalam segala sesuatu kecuali kepada Rasulullah Shallallahu’alayhi wa salam.

Al-Imam Malik Rahimahullah berkata, “Ahlus Sunnah tidak memiliki julukan yang mereka dikenali dengannya, bukan Jahmi, bukan Qadari, dan bukan pula Rafidhi.” (al-Intiqa’ fi Fadha ili Tsalatsatil A’immah Fuqaha, Ibnu Abdil Barr, hal.35)

Para ulama salaf bersungguh-sungguh dalam melarang penamaan dan penisbatan selain Islam, Ibnu Abbas Radhiyallohu’anhuma berkata, “Barang siapa mengakui dan mengikuti nama-nama yang dibuat-buat ini maka sungguh dia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.” (Ibanah Shughra, Ibnu Baththah, Hal.137)

Malik bin Mighwal berkata, “jika seseorang menamakan diri dengan selain Islam dan Sunnah maka lekatkanlah dia dengan agama mana saja” (Ibanah Shughra hal.137)

Al-Imam Ibnul Qayyim berkata, “Di antara tanda-tanda ahli ubudiyah bahwasanya mereka tidak menisbatkan diri kepada suatu nama. Maksudnya, mereka tidak menisbatkan diri kepada suatu nama. Maksudnya, mereka tidak dikenal oleh manusia dengan nama-nama yang telah menjadi symbol-simbol bagi para ahli thariqah (sufi-red). Demikian juga, mereka tidak dikenal dengan suatu amalan yang nama mereka hanya dikenal dengan amalan tersebut, karena ini adalah penyakit ubudiyah, lantaran ubudiyah ini adalah ubudiyah yang terbatas. Adapaun ubudiyah yang mutlak maka pelakunya tidak dikenal dengan salah satu dari nama-nama ubudiyah, karena dia memenuhi setiap panggilan ubudiyah dengan berbagai macamnya. Dia memiliki bagian bersama setiap pemilik ubudiyah,maka dia tidak membatasi diri dengan symbol, isyarat, nama,kostum, dan thariqah. Bahkan jika dia ditanya tentang nama mursyidnya, dia mengatakan: Rasulullah Shallallahu’alayhi wa salam jika ditanya tentang thariqahnya dia menjawab: Ittiba’… sebagian imam telah ditanya tentang sunnah maka dia menjawab,’ Yang tidak mempunyai nama lain kecuali Sunnah’, maksudnya bahwa Ahlus Sunnah tidak memiliki penisbatan nama selain Sunnah.” (Madarijus Salikin 3/174, 176)

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata, “ Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berjalan dibawah minhajun nubuwwah tidak pernah lepas walau sedetik pun dari Sunnah, tidak dengan suatu nama dan tidak pula dengan suatu symbol. Mereka tidak pernah menisbatkan diri kepada seorang pun kecuali kepada Rasulullah Shallallahu’alayhi wa salam dan orang yang mengikuti jejaknya. Mereka tidak memiliki symbol dan metode kecuali manhaj nubuwwah (yaitu kitab dan Sunnah), karena sesuatu yang asli tidak butuh tanda khusus untuk dikenali, yang butuh nama tertentu adalah yang keluar dari yang asli dari kelompok-kelompok yang menyempal dari yang asli (yaitu Jama’atul Muslimin).” (Hukmul Intima’ ilal Firaq wal Ahzab wal Jama’atil Islamiyah hal. 28 )

Dari sini, nampaklah kepada kita betapa sangat berbahaya akibat banyaknya kelompok-kelompok dan partai-partai Islam yang memiliki nama-nama, julukan-julukan, metode-metode, dan symbol-simbol yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Jadilah setiap kelompok memiliki juru kampanye, simpatisan, dan anggota. Mereka berikan loyalitas mutlak kepada setiap orang yang loyal kepada kelompok mereka dan menisbatkan diri kepada kelompok mereka. Di sisi lain, mereka menjauhi bahkan memusuhi setiap orang yang menyelisihi kelompok mereka dan tidak bernaung dibawah panji-panji mereka!

Sampai-sampai sebagian dari mereka memberikan loyalitas kepada para ahli bid’ah dari Rafidhah, Khawarij, Bathiniyah, Shufiyah, dan selain mereka karena para ahli bid’ah ini masuk ke dalam partai dan kelompok mereka. Di saat yang sama mereka memusuhi Ahlus Sunnah karena tidak masuk dalam partai dan kelompok mereka dan tidak ridha dengan kelakuan mereka!