Arsip | Kekeliruan pembagian hakikat dan syari’at ala sufiyah RSS feed for this section

Kekeliruan pembagian hakikat dan syari’at ala sufiyah

31 Mei

Sebagian kalangan tarikat Sufiyah membagi Islam menjadi 2 bagian, yaitu syariat & hakikat. Atau zhahir & batin.

Ibnul-Jauzi rahimahullah menjelaskan: “Banyak kalangan Sufi nan membedakan (agama) menjadi hakikat & syariat”. (*1)

Yang dimaksudkan dgn syariat –menurut kaum Sufi- yaitu perkara apa saja nan diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya tanpa memerlukan adanya pentakwilan. Mereka menyebutnya dgn nama ilmu zhahir atau ilmu syariah. Menurut kalangan Sufi, golongan nan mengimani nash-nash syariat tanpa menggunakan takwil ini, masuk ke dlm kategori kelompok awam. nan termasuk dlm klasifikasi ini -menurut kaca mata mereka- yaitu para imam empat, seluruh ulama fiqih (fuqaha), & ulama hadits.

Adapun pengertian al-haqiqah (hakikat), yaitu bisikan-bisikan hati & mimpi-mimpi kaum Sufi, nan mereka yakini sebagai takwil (penafsiran) ilmu syariat. Ilmu ini dikenal dgn istilah ilmu bathin, & para pemiliknya pun disebut ahlul-bâthin. Mereka inilah –menurut kalangan Sufi- nan dikategorikan sebagai manusia-manusia khâsh, nan menyandarkan cara pengamalan agama pada penakwilan nash-nash syariat. Bahkan kata mereka, ilmu bathin tersebut lebih tinggi daripada ilmu syariah.

Mereka melabeli para ulama syariah dgn sebutan nan merendahkan. Seperti ‘al-’awwaam’ (orang-orang awam), ahlu zhahir, al mahjubun (kaum nan terhalangi dari ilmu). Bahkan, kata ahlu syubuhat & hawa nafsu pun mereka lekatkan pada ulama syariah.

Asy Syaranimenukil riwayat dari seorang tokoh Sufi, Nashr bin Ahmad ad Daqqaq, ia berkata: “Kesalahan seorang murid ada 3: menikah, menulis hadits & bergaul dgn ulama syariah”.

Lain lagi dgn Syaikh Hamd an Nahlan at Turabi. Sebelumnya ia menyibukkan diri dgn mengajar ilmu fiqh. Akan tetapi, pasca mengenal tarikat,menghabiskan waktunya selama 32 bulan utk berkholwat. Murid-muridna pun memintanya utk kembali mengajar. Akan tetapi ia menjawab: “Saya & al Khalil (nama seorang ulama fiqih besar) terlah berpisah sampai hari Kiamat” (*2)

HAKIKAT “ILMU HAKIKAT” SUFIYAH
Menurut seorang tokoh Sufi nan bernama Ibnu ‘Ajîbah (*3), bahwa orang nan membagi agama menjadi hakikat & syariat ialah Nabi.

Menurut Ibnu ‘Ajîbah, Allah mengajarkannya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui wahyu & ilham. Malaikat Jibril datang pertama kali membawa “syariat”. Dan tatkala “syariat” sudah mengakar, maka Malaikat Jabril turun utk kedua kalinya dgn membawa “haqiqat”. Tetapi hanya sebagian orang nan memperolehnya. Dan orang nan pertama kali memunculkannya ialah Sayyiduna ‘Ali. (*4)

Anggapan & keyakinan seperti ini, tentu merupakan pemikiran bid’ah model baru. Karena sejak awal, kaum Muslimin tak pernah mengenal pembagian ini. Kaum Muslimin tak pernah memikirkannya, apalagi sampai mengakuinya. Benih pembagian agama menjadi “hakikat” & “syariat” ini sebenarnya tumbuh dari sekte Syi`ah nan mengatakan bahwa setiap segala sesuatu memiliki sisi zhahir & batin. Sehingga –menurut kaum Sufi- demikian pula dgn Al-Qur`an, ia mempunyai sisi zhahir & batin. Setiap ayat & kata-katanya memuat pengertian zhahir & batin. Sisi batin itu tak terdeteksi kecuali oleh kalangan hamba Allah nan khusus (kaum khawâsh), nan –konon- Allah mengistimewakannya dgn karunia ini, bukan kepada orang selain mereka. (*5)

Oleh karena itu, kalangan Sufi nan memegangi bid’ah ini, mereka telah mengikuti jalan ta`wil, sehingga “terpaksa” banyak menggunakan bahasa-bahasa & istilah nan biasa dipakai orang-orang Syi`ah.

KONSEKUENSI ADANYA “HAKIKAT” DAN “SYARIAT”
Keyakinan nan telah mengakar pada sebagian penganut Sufi ini, memunculkan banyak konsekuensi buruk. Mulai dari berdusta terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam & juga kebohongan terhadap para sahabat, terutama sahabat Abu Bakr, ‘Umar, & Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Beberapa konsekuensi ini mungkin saja tak mereka sadari, atau bahkan mereka tolak, akan tetapi, demikianlah adanya.

Misalnya tentang kedustaan terhadap Allah Ta’ala,. Yaitu, mereka melakukan pembagian agama menjadi “hakikat” & “syariat” itu turun dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya dgn perantaraan Malaikat Jibril Alaihissalam. Sedangkan kedustaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa adanya pembagian ini telah menyiratkan tuduhan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan kitmânul-’ilmi (menyembunyikan sebagian ilmu) & tak menjalankan amanah tabligh secara penuh. Padahal, terdapat ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala atas orang-orang nan menyembunyikan ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang nan menyembunyikan apa nan telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) & petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dlm Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah & dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) nan dapat melaknati”. [al- Baqarah/2:159].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa nan ditanya ilmu, kemudian ia menyembunyikannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membelenggu mulutnya dgn tali kekang dari neraka pada hari Kiamat kelak” [HR Abu Dawud].

Sehingga tak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan sebagian ilmu. Anggapan itu, nyata merupakan pendapat nan mengada-ada. Ilmu apakah nan beliau sembunyikan? Padahal saat haji Wada`, beliau n telah mempersaksikan tentang tugasnya nan sudah disampaikannya secara utuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah menegaskan kesempurnaan Islam dlm Al-Qur`ânul-Karim.

Adapun lontaran kebohongan terhadap para sahabat, yaitu anggapan bahwa para sahabat Radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang sesat, bodoh, & tak mengenal ilmu hakikat nan dapat mendekatkan manusia kepada mahabatullah. Lontaran ini tentu merupakan kedustaan. Sebab mengandung hujatan nan meminggirkan peran para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, & hanya menempatkan Sahabat ‘Ali sajalah nan telah berperan dlm masalah ini, meskipun hakikatnya mereka pun berdusta atas nama Sahabat ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu.

Secara khusus, kedustaan ini memuat 2 permasalahan.

Pertama: Yakni semakin menguatkan adanya benang merah antara Sufi & Syi’ah.
Kedua: Kedustaan ini merupakan petunjuk adanya hasad terpendam terhadap agama Islam. Karena pembagian agama dlm 2 kutub “syariat” & “hakikat”, di dalamnya mengandung usaha utk menjauhkan umat Islam dari generasi terbaiknya, yaitu para sahabat Radhiyallahu ‘anhum nan mulia.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kaum Muslimin utk memahami agama Islam dgn cara nan benar.

Marâji`:
– Hâdzihi Hiyash Shûfiyah, Syaikh ‘Abdur-Rahmân al-Wakîl.
– Ijtimâ Juyûsyil-Islâmiyyah lil-Imam Ibnil-Qayyim ma’a Mauqifihi min Ba’dhil-Firaq, Dr. ‘Awwâd bin ‘Abdullah al-Mu’tiq, Maktabah Rusyd, Cetakan III, Tahun 1419 H – 1999 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Referensi
(*1). Naqdul-‘Ilmi wal-‘Ulama, hlm. 246-247.
(*2). Târîkh Baghdâd (2/331)
(*3). Ahmad bin Muhammad bin al Mahdi bin Ajîbah, dia adalah seorang tokoh Sufi, meninggal pada tahun 122H. Dia menulis sebuah kitab berjudul Iqâzhul-Himami fi Syarhil-Hikam.
(*4). Iqâzhul-Himami fi Syarhil-Hikam (1/5). Dikutip dari halaman 149 Ijtimâ’ Juyûsyil-Islâmiyyah lil- Imam Ibnil-Qayyim ma’a Mauqifihi min Ba’dhil-Firaq, Dr. ‘Awwâd bin ‘Abdullah al-Mu’tiq
(*5). Mengenai aliran Bathiniyah, lihat kupasannya di Majalah As-Sunnah, Edisi 01/Tahun X/1427 H/2006 M, hlm. 54-57.
sumber: http://www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Minhâl tags: Al Khalil, Ilmu Bathin, Kaca Mata, Bin Ahmad, Apa Saja