Arsip | PERTANYA’AN BUAT AHLI BID’AH RSS feed for this section

Mengusap wajah setelah do’a adalah orang jahil ?

4 Mei

Syekh Al ‘Izz Bin Abdussalam pembesar Ulama bermadzhab Imam Syafi’i sulthonul ulama,baa’i’ul muluuk, Syaikhul Islam,Ahadul Aimmatil A’laam, Al Qodhi (beliau pernah menjabat qodhy di damascus,syria dan cairo Mesir),,Ahli Fiqih Syafi’i yang sampai tingkat mujtahid, Al Ushuly/ahli ushul, Allughowi / ahli bahasa,Waro’, zaahid dan masih bnyk lagi pujian para ulama di zamannya.

Beliau menyatakan : Dan tidaklah mengusap wajah setelah doa kecuai orang jahil . (Kittab Al- Fataawaa karya Imam Al-’Izz bin Abdis Salaam hal 46-47 ) . kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/ showthread.php?t=39664 ) .

Pertanya’annya :

Kenapa Beliau Al-Izz bin Abdis Salam mengatakan Dan tidaklah mengusap wajah setelah doa kecuali orang jahil ?
Bukan kah mengusap wajah setelah doa di amalkan orang orang yang mengatakan adanya bid’ah hasanah ?

majles.alukah.net

المجلس العلمي,مجلس علمي,السنة, القران,كتب,الكتب,العلم,منتدى طلب علم شرعي,مخطوطات,سيرة,أدب اسلامي,أصول فقه
Iklan

Mengirim pahala baca’an al qur’an kepada mayat tidaklah sampai ?

4 Mei

Syekh Al ‘Izz Bin Abdussalam pembesar Ulama bermadzhab Imam Syafi’i sulthonul ulama,baa’i’ul muluuk, Syaikhul Islam,Ahadul Aimmatil A’laam, Al Qodhi (beliau pernah menjabat qodhy di damascus,syria dan cairo Mesir),,Ahli Fiqih Syafi’i yang sampai tingkat mujtahid, Al Ushuly/ahli ushul, Allughowi / ahli bahasa,Waro’, zaahid dan masih bnyk lagi pujian para ulama di zamannya.

Beliau menyatakan bahwa :

mengirim bacaan qur’an kepada mayat tidaklah sampai (lihat kitab Al- Fataawaa karya Imam Al-’Izz bin Abdis Salaam hal 96). Beliau juga menyatakan bahwasanya mentalqin mayat setelah dikubur merupakan bid’ah (lihat kitab Al- Fataawaa karya Imam Al-’Izz bin Abdis S 96)

Pertanya’annya :

Kenapa Syekh Al ‘Izz Bin Abdussalam menyatakan mengirim pahala baca’an al qur’an kepada
mayat tidak lah sampai dan mentalqin mayat setelah dikubur merupakan bid’ah ?                              

Bukan kah amalan kirim pahala baca’an al qur’an kpd mayat dan mentalqin mayat setelah dikubur, di amalkan orang orang yng mengatakan adanya bid’ah hasanah ?

Mengirim pahala baca’an al qur’an kepada mayat tidaklah sampai ?

4 Mei

Imam An Nawawi berkata :

Adapun qiroah (membaca) Al-Qur’aan maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi’i adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat…” (Al- Minhaaj syarh shahih Muslim 1/90) .

Pertanya’annya:

Mengapa Imam An Nawawi mengatakan qiroah (membaca) Al-Qur’aani adalah  tidak sampai pahalanya kepada si mayat ?
Bukankah mengirimkan pahala baca’an al qur’an biasa di lakukan orang orang dalam acara tahlilan .

Membaca Al – Qur’an secara bersama’an adalah bid’ah ?

4 Mei
Imam Asy-syathibi dari Imam Malik berkata :
” Membaca al- quran secara bersamaan itu adalah Bid’ah yang diada – adakan . ( membaca al qur’an yng benar adlh salah seorang membaca , yang lain menyimak ) para sahabat salafus shoolih adalah orang-orang yang sangat bersemangat melakukan kebajikan . seandainya perbuatan itu baik , tentu mereka sudah lebih dulu mengerjakannya dari pada kita “ ( Fatwa Asy-Syathibi, hal 206-208 ) .                                                        
Amalan ini sering dlakukan oleh sbagian kaum muslimin . Trutama saat tahlilan .
Pertanya’an nya :
Mengapa Imam Asy-syathibi mengatakan membaca Al-Quran secara bersama’an itu adalah Bid’ah yang diada-adakan ?
Membaca al qur’an berjama’ah bukakah itu lbih baik ?
Apakah imam Asy syathibi tidak tahu kalo bid’ah itu ada yng hasanah ?

Imam Syafi’iy menyukai tetangga mayit & famili membuat makanan untuk ahli mayit

4 Mei

Berkata Imam Syafi’iy :

“ Aku menyukai bagi para tetangga mayit dan sanak familinya membuat makanan untuk ahli mayit pada hari kematiannya dan malam harinya yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka, karena sesungguhnya yang demikian adalah (mengikuti) SUNNAH (Nabi)…. [Al-Um I/317] .

Pertanya’annya :

Apa maksud Imam syafi’i Mengikuti sunnah . Bukankah orang orang yng melakukan selamatan kematian (tahlilan) justru tidak sesuai dngn yng Imam Syafi’i sukai . Padahal orang orang yng melakukan selamatan kematian katanya mengikuti madzhab Imam Syafi’i . Apakah betul perkata’an Imam Syafi’i memberi makan kepada ahli mayit pada hari kematiannya dan malam harinya yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka adalah (mengikuti) SUNNAH (Nabi)…. “ [Al-Um I/317] ?.

Imam Nawawi melarang baca’an dzikir dan selainnya ketika mengiringi jenazah

4 Mei

Imam An-Nawawi rahimahullah  di dalam kitabnya al-Azkar beliau berkata :

” Ketahui sesungguhnya yang betul lagi terpilih yang menjadi amalan al-Salaf al-Salih radhiallahu ‘anhum ialah diam ketika mengiringi jenazah.  Maka janganlah diangkat suara dengan bacaan, zikir dan selainnya. Hikmahnya nyata, yaitu lebih menenangkan hati dan menghimpunkan fikiran mengenai apa yang berkaitan dengan jenazah. …… Adapun apa yang dilakukan oleh golongan jahil di Damaskus, yaitu melanjutkan bacaan al- Quran dengan di panjang- pangjangkan dan bacaan yang lain ke atas jenazah, serta pembicaraan yang tiada kaitan, maka hukumnya adalah haram dengan ijma’ ulama.                                                                                                                                                                                              Sesungguhnya aku telah jelaskan dalam Kitab Adab al- Qurroo’ tentang keburukannya, besar keharamannya dan kefasikannya bagi siapa yang mampu mengingkarinya tetapi tidak mengingkarinya “ (Al- Adzkaar hal 160) .

Pertanya’annya :

Kenapa Imam Nawawi melarang baca’an, zikir dan selainnya. Ketika mengiringi jenazah . Bukankah baca’an al qur’an dan zikir adalah baik ?

Imam As Syafi’i tidak suka kuburan dibangun dan dikapur

4 Mei

Imam As-Syafi’i berkata :

 “ Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan di atas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan… Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun diatas kuburan, dan aku tidak melihat pera fuqohaa mencela penghancuran tersebut ” (Al-Umm 1/277) .

Pertanya’anya :

Apa maksud perkata’an imam Syafi’i aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan ?

Bukankah orang orang yang mengatakan adanya bid’ah hasanah mereka suka membangun kuburan dan mengecatnya , perbuatan yng tidak Imam Syafi’i sukai .