Arsip | BID’AH HASANAH RSS feed for this section

Tidak ada bid’ah hasanah

2 Mei
1- Ibnu Al-Majisun berkata :
aku mendengar Imam Malik berkata , “ Barangsiapa yang berbuat bid‘ah dalam Islam dan dia memandangnya baik, berarti dia telah menganggap bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah (yakni tidak menyampaikannya secara sempurna), karena Allah telah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.” (Q.S. Al-Maidah:3). ” Maka apa yang pada hari itu (masa nabi) bukan merupakan agama, berarti bukan pula merupakan agama pada hari ini.” Lihat Al-I’tisham (1/64) cet. Daar Ibnu ‘Affan, Khubar-KSA, th. 1418 H, dan lihat juga risalah Al-Bid‘ah Dhawabithuha wa Atsaruha As-Sayyi’ fil Ummah (hal. 10).
2- Al-‘Allamah Abu Syammah Al-Maqdisi Asy-Syafi’iy (seorang pembesar ulama Syafi’iyyah) berkata :

فالواجب على العالم فيما يَرِدُ عليه من الوقائع وما يُسألُ عنهُ من الشرائعِ : الرجوعُ إلى ما دلَّ عليهِ كتابُ اللهِ المنزَّلُ، وما صحَّ عن نبيّه الصادق المُرْسَل، وما كان عليه أصحابهُ ومَن بعدَهم مِن الصدر الأول، فما وافق ذلك؛ أذِنَ فيه وأَمَرَ، وما خالفه؛ نهى عنه وزَجَرَ، فيكون بذلك قد آمَنَ واتَّبَعَ، ولا يستَحْسِنُ؛ فإنَّ (مَن استحسن فقد شَرَعَ).

“Maka wajib atas seorang ulama terhadap peristiwa yang terjadi dan pertanyaan yang disampaikan kepadanya tentang syari’at adalah kembali kepada Al-Qur’an, riwayat shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan atsar para shahabat serta orang-orang setelah mereka dalam abad pertama. Apa yang sesuai dengan rujukan-rujukan tersebut dia mengijinkan dan memerintahkan, dan apa yang tidak sesuai dengannya dia mencegah dan melarangnya. Maka dengan itu dia beriman dan mengikuti. Dan janganlah dia menyatakan baik menurut pendapatnya. Sebab : ‘Barangsiapa yang menganggap baik menurut pendapatnya (istihsan), maka sesungguhnya dia telah membuat syari’at (baru)” [Al-Ba’its ‘alaa Inkaaril-Bida’ wal-Hawadits oleh Abu Syaammah, hal. 50]

– Al-Ustadz Abul Jauzaa, Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah dan Bid’ah Hasanah, http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/05/al-imam-asy-syafiiy-rahimahullah-dan.html

Iklan

Keyakinan adanya bid’ah hasanah adalah musibah terbesar

2 Mei

Pendapat yang mengatakan adanya bid’ah hasanah (yang baik) dalam Islam termasuk fitnah dan musibah terbesar dari berbagai macam fitnah dan musibah yang menimpa ummat ini.
Bagaimana tidak, perkataan ini pada akhirnya akan menghalalkan semua bentuk bid’ah dalam
agama yang pada gilirannya akan merubah syari’at-syari’at agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah dibakukan tatkala Dia mewafatkan NabiNya Shollallahu‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam. Yang lebih celaka lagi, fitnah ini telah memakan banyak korban tanpa pandang bulu, mulai dariorang awwam yang tidak paham tentang agama sampai seorang yang dianggap tokoh agama yangtelah meraih berbagai macam gelar –baik yang resmi maupun yang tidak- dalam ilmu agama Islam, semuanya berpendapat akan adanya bid’ah yang baik dalam Islam. Maka betapa buruknya nasib umat ini bila orang-orang yang mereka anggap tokoh agama berpendapat dengan pendapat ‘aneh’ seperti ini, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

1- Ibnu Al-Majisun berkata :
aku mendengar Imam Malik berkata , “ Barangsiapa yang berbuat bid‘ah dalam Islam dan dia memandangnya baik, berarti dia telah menganggap bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah (yakni tidak menyampaikannya secara sempurna), karena Allah telah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.” (Q.S. Al-Maidah:3). ” Maka apa yang pada hari itu (masa nabi) bukan merupakan agama, berarti bukan pula merupakan agama pada hari ini.” Lihat Al-I’tisham (1/64) cet. Daar Ibnu ‘Affan, Khubar-KSA, th. 1418 H, dan lihat juga risalah Al-Bid‘ah Dhawabithuha wa Atsaruha As-Sayyi’ fil Ummah (hal. 10).
2- Al-‘Allamah Abu Syammah Al-Maqdisi Asy-Syafi’iy (seorang pembesar ulama Syafi’iyyah) berkata :

فالواجب على العالم فيما يَرِدُ عليه من الوقائع وما يُسألُ عنهُ من الشرائعِ : الرجوعُ إلى ما دلَّ عليهِ كتابُ اللهِ المنزَّلُ، وما صحَّ عن نبيّه الصادق المُرْسَل، وما كان عليه أصحابهُ ومَن بعدَهم مِن الصدر الأول، فما وافق ذلك؛ أذِنَ فيه وأَمَرَ، وما خالفه؛ نهى عنه وزَجَرَ، فيكون بذلك قد آمَنَ واتَّبَعَ، ولا يستَحْسِنُ؛ فإنَّ (مَن استحسن فقد شَرَعَ).

“Maka wajib atas seorang ulama terhadap peristiwa yang terjadi dan pertanyaan yang disampaikan kepadanya tentang syari’at adalah kembali kepada Al-Qur’an, riwayat shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan atsar para shahabat serta orang-orang setelah mereka dalam abad pertama. Apa yang sesuai dengan rujukan-rujukan tersebut dia mengijinkan dan memerintahkan, dan apa yang tidak sesuai dengannya dia mencegah dan melarangnya. Maka dengan itu dia beriman dan mengikuti. Dan janganlah dia menyatakan baik menurut pendapatnya. Sebab : ‘Barangsiapa yang menganggap baik menurut pendapatnya (istihsan), maka sesungguhnya dia telah membuat syari’at (baru)” [Al-Ba’its ‘alaa Inkaaril-Bida’ wal-Hawadits oleh Abu Syaammah, hal. 50]

Imam Asy-Syafi’i menyatakan adanya bid’ah hasanah ?

2 Mei

Mereka yng meyakini adanya bid;ah hasanah  berdalilkan dengan perkataan Imam AsySyafi’i  rahimahullah :

اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ : بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ, فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُوْمٌ

“Bid’ah itu ada dua: Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Semua yang sesuai dengan sunnah, maka itu adalah terpuji, dan semua yang menyelisihi sunnah, maka itu adalah tercela.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/113))

Semakna dengannya, apa yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i (1/469) bahwa beliau berkata:

اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ : مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلاَلِ, وَمَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ

“ Perkara yang baru ada dua bentuk: (Pertama) Apa yang diada-adakan dan menyelisihi kitab atau sunnah atau atsar atau ijma’, inilah bid’ah yang sesat. Dan (yang kedua) apa yang diada-adakan berupa kebaikan yang tidak menyelisihi sesuatupun dari hal tersebut, maka inilah perkara baru yang tidak tercela ” .

Bantahannya :

1 – Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullah- dalam ‘Ilmu Ushulil Bida’ hal. 121 mengomentari kedua perkataan Asy-Syafi’i di atas, “ Di dalam sanad-sanadnya terdapat rawi-rawi yang majhul (tidak diketahui ) ” .
Hal ini karena di dalam sanad Abu Nu’aim terdapat rawi yang bernama Abdullah bin Muhammad Al-Athasi. Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad dan As-Sam’ani dalam Al-Ansab menyebutkan biografi orang ini dan keduanya tidak menyebutkan adanya pujian ataupun kritikan terhadapnya sehingga dia dihukumi sebagai rawi yang majhul. Adapun dalam sanad Al-Baihaqi, ada Muhammad bin Musa bin Al-Fadhl yang tidak didapati biografinya. Ini disebutkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Al-Bida’ wa Atsaruhas Sayyi` alal Ummah hal. 63.

2 – Tidak mungkin beliau menginginkan dengan perkataan beliau ini akan bolehnya atau adanya bid’ah hasanah, karena beliau sendiri yang telah berkata :“ Barangsiapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka berarti dia telah membuat syari’at ” .

Adakah bid’ah hasanah ?

2 Mei

Saudara kita yng meyakini adanya bid’ah hasanah , berdalil dngan membawa perkata’an imam Syafi’i ; Bid’ah itu ada dua , yaitu , bid’ah yang mahmudah (terpuji) dan bid’ah yang mazhmumah (tercela) . Juga perkata’an sahabat Umar bin khotob . ketika menghidupkan shalat tarawih secara berjama’ah , “ beliau berkata : ِ Sebaik-baik bid’ah adalah ini ” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya) Tanggapannya : Sebelum nya kita lihat hadist nabi tentang bidah . dari Jabir bin Abdillah , Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad . Dan sejelek jelek urusan (perkara dlm ibadah) adalah BIDA’H , dan semua Bid’ah adalah sesat . Dan semua yang sesat tempat nya di neraka . Nabi mengatakan semua bid’ah adalah sesat . sementara imam syafi’i dan umar bin khotob menyebut ada bidah hasanah ( baik ) . Lalu perkata’an siapa yng akn kita ikuti ? Jawaban nya tentu saja perkata’an nabi . Berikut ini adalah dalil dalil dimana kita harus mengikuti perkata’an Nabi dari pada perkata’an yng lain nya .

* FIRMAN ALLOH :
Jika kalian berselisih tentang sesuatu , maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya , jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian . Yang demikian itu lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya . [An-Nisa’ : 59]

* HADIST NABI :
Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat selama nya , selama kalian berpegang teguh kpd ke duanya , yaitu kitabullah dan Sunnahku (perkata’an ku) . (HR. Malik dan Al-Hakim) .

* IBNU MASUD berkata:
jangan sekali-kali kalian taklid ( masalah agama ) kepada seseorang , (I’lamulMuwaqi’injuz2halaman194)

* ABDULLAH IBNU ABBAS berkata :
1 . Tidak ada seorang pun boleh diambil perkata’an nya atau di tolak , kecuali perkata’an Rasulullah Sallallohu ‘alaihi wasallam (Rowahu- Thobroni) . 2 . Aku khawatir akan datang hujan batu dari langit , ketika aku mengatakan Rasulullah berkata . . , engkau mengatakn Abu Bakar berkata . . , atau Umar berkata . . .

* IMAM ABU HANIFAH berkata :
1 . Apabila saya mengucapkan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah , maka tinggalkanlah perkataanku .

* IMAM MALIK BIN ANNAS berkata :
1 . Saya ini hanya seorang manusia , bisa salah dan bisa benar, maka telitilah pendapatku . Setiap pendapat ku yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah , maka ambillah pendapat tersebut, dan setiap pendapatku yang bertentangan
dengan Al-Qur’an dan sunnah , maka tinggalkanlah pendapat tersebut .
2 . Tidak ada seorang pun sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali pendapatnya bisa diambil atau juga bisa ditolak .

*IMAM SYAFI’I berkata :
1 . Tidak ada seorang pun , kecuali ia memiliki kemungkinan untuk lupa terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tersembunyi darinya . Setiap perkata’an ku atau setiap ushul (asas) yang aku letakkan ,kemudian ada riwayat dari Rasulullah menyelisihi perkataan ku , maka pendapat yang harus diikuti itu adalah apa yang di sabdakan oleh Rasulullah , dan aku pun berpendapat dengannya .
2 . Kaum muslimin telah ijma’ bahwasanya barang siapa yang mengetahui dengan jelas suatu sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , maka tidak halal baginya meninggalkan sunnah tersebut kerena perkataan (pendapat) seseorang .
3 . Apabila kalian menjumpai dalam kitabku hal yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah maka
berpendapatlah kalian sesuai dengan sunnah Rasulullah , dan tinggalkan apa yang aku katakan . Dalam riwayat yang lain , Maka ikutilah sunnah tersebut , dan janganlah kalian hiraukan pendapat seorang pun
4 . Apabila suatu hadits telah jelas shahih , maka itulah madzhabku .
5 . Apabila kalian melihat aku mengatakan suatu pendapat , sedangkan telah shahih dari Rasulullah hadits yang menyelisihi pendapatku , maka ketahuilah bahwasanya akalku telah hilang.
6 . Setiap apa yang aku katakan , sedangkan riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyelisihi pendapatku , maka hadits nabi adalah lebih utama , janganlah kalian bertaqlid kepadaku .
7. Setiap hadits dari Rasulullah , maka itu adalah pendapatku juga , walaupun kalian tidak pernah mendengarnya dariku .
8 . apabila ada hadits shahih maka itulah madzhabku dan apabila ada hadits Shahih maka lemparkanlah perkataanku ke tembok . (Siyar A’lam an-Nubula 5/35)
9 . Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan hadi Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam . Maka peganglah hadits Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu . Al- Khatib dalam ihtijaj Bi Asy-Syafi’i (VII2)
10 . Barang siapa taklid kepada orang tertentu di dalam mengharamakan sesuatu atau menghalalkannya sedangkan telah tetap hadis shoheh yng menyalahinya dan perbuatan taklid itu mencegah dia dari mengamalkan sunnah , maka sesungguhnya dia telah menjadikan orang yang di taklidki itu sebagai Tuhan selain Allah Ta’ala , dia telah mengharamkan atasnya apa-apa yang telah dihalalkan oleh Allah . (Halil Muslim halaman 25)
11 . Tiap-tiap masalah yang telah sah dari Rasulullah Sallallohu ‘alaihi wasallam di sisi ahli hadis dengan menyalahi apa-apa yang telah kukatakan maka aku akan kembali darinya di dalam hidupku dan sesudah matiku . (Iqadzul Humam hl 99) dan (Halil Muslim hl 63) .

* IMAM AHMAD bin HAMBAL berkata :
1 . janganlah kalian bertaklid kepadaku kepada Imam Malik kepada Imam Abu Hanifah kepada Imam Syafie kepada Imam Auza’i kepada Imam Tsauri dan ambillah (hukum agama) dari mana mereka mengambil . (Halil Muslim halaman 32)
2 . Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah , maka ia berada pada jurang kehancuran (kesesatan).

Setelah kita melihat ucapan ucapan para Sahabat , para ulama besar, ulama terdahulu , mereka semua memerintahkan kpd kita untuk mengikuti apa yng di katakan oleh Nabi dan meninggalkan perkata’an siapa pun yang menyelisihi perkata’an Nabi.

MASIH KAH KITA AKAN MENGIKUTI PERKATA’AN IMAM SYAFI’I DAN UMAR BIN KHOTOB WALAU PUN UCAPAN MEREKA MENYELISIHI PERKATA’AN NABI ?

* Keterangan :

Ucapan Umar bin khotob , sebaik baik bid’ah adalah ini , maka yang di maksud adalah bid’ah menurut lughowi (bid’ah secara bahasa) dan bukan bid’ah menurut istilah syar’i . Sebagai mana yng di jelaskan oleh ibnu Rajab . Ibnu Rajab mengatakan bahwa shalat tarawih yang dihidupkan kembali oleh Umar tetap sah dan bukan bid’ah . karena itu adalah bagian dari sunnah . (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam , 2: 128) .

Kita lihat riwayat shalat taraweh .

Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihain meriwayatkan hadis dari Aisyah Rodiyalloha Anha bahwa pada suatu malam di bulan Ramadan , Rasulullah Sallallohu ‘Alaihi Wasallam keluar menuju masjid untuk mendirikan shalat malam sendirian . Lalu datanglah beberapa sahabat dan bermakmum di belakang beliau . Ketika Shubuh tiba , orang-orang berbincang-bincang mengenai hal tersebut . Pada malam selanjutnya , jumlah jama’ah semakin bertambah dari pada sebelum nya . Demikianlah seterus nya pada malam-malam berikutnya . Hal itu berlanjut hingga tiga malam . Pada malam keempat , masjid menjadi sesak dan tak mampu menampung seluruh jama’ah . Namun Rasulullah Sallallohu ‘Alaihi Wasallam tak kunjung keluar dari kamarnya . Hingga fajar menyingsing , Rasulullah Sollallohu ‘Alaihi Wasallam baru keluar untuk menunaikan shalat Shubuh . Selepas itu beliau berkhutbah , Amma Ba’du . Saya telah mengetahui kejadian semalam . Akan tetapi saya khawatir shalat itu akan diwajibkan atas kalian sehingga kalian tidak mampu melakukannya . Untuk selanjutnya shalat Tarawih tidak dikerjakan secara berjama’ah .
Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat tarawih bersama para sahabat nya di malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan . Dari riwayat ini bisa kita ketahui , bahwa shalat taraweh berjama’ah Bukanlah BID’AH , karena pernah di lakukan oleh Nabi bersama para Sahabat . Adapun akhir nya berjama’ah di tinggal kan , karena Rosululloh khawatir klo Shalat taraweh di wajibkan kpd umat nya . Jadi ucapan Umar: sebaik baik bid’ah adalah ini , adalah bid’ah secara lughowi (bid’ah secara bahasa) demikan menurut ibnu Rajab . (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam , 2 : 128) .
Jadi bagaimana mungkin Umar mengatakan shalat taraweh berjama’ah adalah bid’ah (secara syar’i) , bukan kah bidah itu artinya , suatu yng tdk di pernah di lakukan oleh Nabi . Sedangkan shalat taraweh , pernah di lakukan bersama sama para Sahabat .

penjelasan ibnu Rajab mengenai perkata’an imam Syafi’i Adapun perkata’an Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala bahwa Bid’ah itu ada dua yaitu bid’ah yang mahmudah (terpuji) dan bid’ah yang mazhmumah (tercela) Al-Hiyatul Auliya’ III /119 . Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullahu ta’ala berkata ketika menjelaskan perkata’an Imam asy-Syafi’i .
Bid’ah mazmumah (tercela) adalah amalan yang tidak ada dasar hukum nya dalam syari’at / tuntunan nya dari Nabi . Dan bid’ah mahmudah (terpuji) adalah amalan yang ada dasar nya dalam syare’at / ada tuntunan nya dari Nabi hanya saja pemahaman ini secara lughoh (bahasa) bukan secara syar’I , karena sesuai dengan sunnah . (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam hadits no. 28) . Perlu di ketahui bahwa pembagian bid’ah menjadi dua oleh Imam Syafi’i yaitu bid’ah terpuji dan bid’ah tercela bukan lah sebagaimana yng di fahami oleh sebagian kaum muslimin yng meyakini adanya bid’ah hasanah , tidak ada yng meriwayatkan klo Imam Syafi’i dlm hidup nya pernah membuat perkara baru dalam agama . Bahkan Al Imam Asy Syafi’i berkata : Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (tanpa dalil) , berarti ia telah membuat syari’at . (Al Muhalla fi Jam’il Jawaami 2/395) .