Arsip | Teguran para sahabat kpd pelaku bid’ah RSS feed for this section

Teguran para sahabat kpd pelaku bid’ah

27 Apr
1- Sa’id bin Musayyib,
ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ?” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466)
. Apakah mungkin seseorang akan di adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ia melakukan shalat ? padahal shalat adalah amalan yang paling utama, namun apabila dilakukan tidak sesuai dengan sunnah (tuntunan) syari’at maka itulah yang keliru, seseorang tidak akan di adzab karena shalat, namun ia akan di adzab karena menyelisihi sunnah .

2- Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, menceritakan :
“Bahwasannya ada seorang laki- laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah was- salaamu ‘alaa Rasuulillaah (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasulullah).” Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Aku juga mengatakan alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah (maksudnya juga bershalawat). Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.” (Diriwayatkan olehAt- Tirmidzi, no. 2738) Lihat baik- baik atsar di atas apakah itu berarti Shahabat yang mulia ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma melarang orang bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya karena ia bersin kemudian orang itu mengucapkan tambahan lafazh shalawat? Tentu tidak, shalawat sangat dianjurkan namun ia tetap mengingkarinya karena menyalahi Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebab beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya yakni hanya mengucapkan : “Alhamdulillah.”

3- Abu Musa Al As’ari Radhiyallahu ‘anhu :
Di riwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu didapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah- halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang Syaikh, dan didepan mereka ada tumpukan kerikil, lalu Syaikh tersebut menyuruh mereka (yang duduk di halaqah) : “Bertasbihlah (ucapkan subhanallah) seratus kali!”, lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu Syaikh itu berkata kepada mereka lagi : “Bertahmidlah (ucapkan alhamdulillah) seratus kali!” dan demikianlah seterusnya . Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya dan ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia bersegera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu iapun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya. Berkatalah Abu Musa kepada Abu Mas’ud : “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidaklah saya melihat melainkan kebaikan. Lalu Abu Musa menceritakan keadaan halaqah dzikir tersebut. Maka berkatalah Abu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan- kejelekan mereka? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikitpun?!” Abu Musa pun menjawab : “ Aku tidak memerintahkan suatu apapun kepada mereka”. Berkatalah Abu Mas’ud : “Mari kita pergi menuju mereka”. Lalu Abu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya. Berkatalah Ibnu Mas’ud :“Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad?” mereka menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil, dan takbir”. Maka berkatalah Abu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ? ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan? Mereka pun menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”. Abu Mas’ud pun berkata : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikantidak mendapatkannya”. Berkata Amru bin Salamah : “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakanmajelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang “An Nahrawan” bersama kaum Khawarij”. (Riwayat Darimi dengan sanad shahih)

ahlussunnahpontianak.wordpress.com/2012/04/26/waspadalah-wahai-pelaku-bidah/