Arsip | Susahnya menasehati pengekor bid’ah dan mukollid RSS feed for this section

Susahnya menasehati pengekor bid’ah dan mukollid

27 Apr

Yang entah karena emang gak ngerti, atau hanya pura2 gak ngerti.. Adaaa aja kilah mereka dalam membelokkan nasehat / kata2 lawan bicaranya dari maksud yang sebenarnya..

==> Kita katakan : Jangan baca Al qur’an dikuburan, mending dimasjid atau dirumah saja = Dikira melarang baca Al qur’an..

==> Sholat fardhu lebih baik jama’ah dimasjid, jangan sendiri dirumah = Dikira melarang sholat..

==> Baca shalawat gak perlu teriak2, apalagi diiringi musik, itu mirip orang nyanyi-nyanyi.. Apalagi shalawatnya bukan shalawat dari Nabi = Dikira melarang Baca Shalawat..

==> Dzikir gak perlu tereak2, badan goyang2, pakek nari2 lagi.. Bukan spt itu tuntunan dari Nabi = Dikira melarang dzikir..

==> Jangan melakukan ritual Tahlilan, Rasulullah tidak mencontohkannya ­ = Dikira melarang baca Tahlil..

==> Jangan melakukan maulidan, para sahabat yang lebih cinta Rasulullah saja tidak melakukannya = Dikira tidak cinta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam..

==> Jangan Tawassul dikuburan, bisa jatuh terhadap kesyirikan = Dikira melarang Ziarah kubur..

==> Jangan berbuat syirik = Dikira mengkafirkan..

==> Jangan berbuat bid’ah = Dikira menuduh sbg ahlul bid’ah..

==> Jangan taqlid buta pada madzhab tertentu = Dikira anti madzhab, anti ulama’, dst..

==> Jangan yasinan, apalagi dikhususkan waktunya, apalagi pahalanya untuk dikirimkan ke mayit = Dikira melarang baca Surat Yasin..

==> Allah memerintahkan saling mengingatkan dan menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.. Amar makruf nahi munkar = Dikira memecah belah..

Dan masih banyaaaak nasihat lainnya lagi yang dibelokkan maknanya dari maksud yang sebenarnya.. Silahkan ditambahkan sendiri..

Padahal ni ya suadara-saudara.. Nasehat-nasehat ­itu semua selalu disertai dalil dari Al Qur’an dan Assunnah yang Shahih sebagaimana dipahami para sahabat dan para salaf.. Tapi sayang… Mereka lebih milih taqlid sama kiayi-kiyainya, ­ Ustadz-ustadznya, habib-habibnya, ­ dan lebih Fanatik sama golongannya..

Bahkan dalam bbrp kasus, sebagian mereka akan berkata dengan gegap gempita : “Ini adalah keyakinan para pendahulu kami, sesepuh kami, guru2 kami, dan nenek moyang kami !!”

Saudaraku sekalian.. Argumentasi “apakata orang tua, guru, kyai,habib, dst..” Bukan lah jawaban ilmiyah dari seorang muslim yang mencari kebenaran. Apalagi masalah ini menyangkut baik buruknya aqidah seseorang. Maka, permasalahan ini harus didudukkan dengan timbangan AL-QUR’AN AS-SUNNAH AS SHAHIHAH sebagaimana dipahami para shahabat dan salaf..

Sikap mengekor kepada pendahulu dan nenek moyang dengan tanpa memperdulikan dalil-dalil syar’i merupakan perbuatan yang keliru, karena sikap tersebut menyerupai orang-orang quraysy, ketika diseru oleh Rasulullah untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.. Apa jawab mereka ?? Silahkan anda baca al-qur’an surat az-zuhruf ayat 22 & asy-syu’ara ayat 74.

“bahkan mereka berkata,’sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama (bukan agama/ajaran yang engkau bawa) dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka”(Qs.az Zuhruf,22).

Jawaban seperti ini juga serupa dengan apa yang dikatakan kaum Nabi Ibrahim, ketika mereka diajak meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. Mereka mengatakan :

“kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian(yakni beribadah kepada selain Allah).” (QS.Asy Syu’ara,74).

Saudaraku.. Jangan lah sampai kita seperti orang-orang yang disinggung oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firmanNya :

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya ­ untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya ­ untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah),dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya ­ untuk mendengar (ayat-ayat / peringatan dari Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al A’raaf 179)

Semoga kita terhindar dari sifat pembangkangan terhadap Al Qur’an dan As sunnah.. Dan semoga kita dijauhkan dari neraka.. Allahuma Aamiin..

Wallahu A’lam wa Wallahul Musta’an..

Sebagian tulisan disunting secara bebas dari posting : Al Akh Tarmanto Bin Abu Sudirah dan http://khansa.heck.in/susahnya-menasehati-pengekor-bidah-dan-p.xhtml

Iklan