Arsip | Para Sahabat Mencela Bid’ah RSS feed for this section

Para sahabat mencela bid’ah

25 Apr

1.    Firman Alloh سبحانه و تعالى :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah: 3)

Malik bin Anas رحمه الله berkata: “Barang siapa yang melakukan suatu bid’ah dalam Islam yang dia menganggap baik bid’ah tersebut, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad صلى الله عليه و سلم telah mengkhianati risalah ini. Sebab Alloh berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah: 3)”

Oleh sebab itu apa saja yang bukan merupakan agama pada hari itu, maka ia bukan termasuk agama pula pada hari ini” [Al I’tisham oleh Asy Syathibiy, 1/64]

Asy Syaukaniy berkata: “Maka jika Alloh telah menyempurnakan agamaNya sebelum NabiNya صلى الله عليه و سلم wafat, maka apa artinya pendapat bid’ah yang dibuat-buat oleh kalangan ahli bid’ah tesebut!?? Kalau memang hal tersebut merupakan agama menurut keyakinan mereka, maka berarti mereka telah beranggapan bahwa agama ini belum sempurna kecuali dengan tambahan pemikiran mereka, dan itu berarti pembangkangan terhadap Al Qur’an. Kemudian jika pemikiran mereka tersebut tidak termasuk dalam agama, maka apa manfaatnya mereka menyibukkan diri mereka dengan sesuatu yang bukan dari agama ini.”!?

Ini merupakan hujjah yang kokoh dan dalil yang agung yang selamanya tidak mungkin dapat dibantah oleh pemilik pemikiran tersebut. Dengan alasan itulah, hendaknya kita menjadikan ayat yang mulia ini sebagai langkah awal untuk menampar wajah-wajah ahli logika, membungkam mereka serta mematahkan hujjah-hujjah mereka.” [Al Qaulul Mufid Fii Adillatil Ijtihaad Wattaqliid, hal. 38, Merupakan bagian dari Risalah Assalafiyyah, Cet: Daar Al Kutub Al ‘Ilmiyyah.]

2.    Hadits dari Jabir bin Abdullah رضي الله عنه bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه و سلم sering mengatakan dalam khutbahnya:

أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله و خير الهدى هدى محمد و شر الأمور محدثاته و كل بدعة ضلالة

“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلى الله عليه و سلم dan seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat dan setiap bid’ah itu sesat”. [Hadits ini ditakhrij oleh Muslim, no. 867]

3.    Dari ‘Irbadh bin Saariyah رضي الله عنه ia berkata:

وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون , فقلنا يل رسول الله كأنها موعظة مودعٍ فأوصنا , قال – أوصيكم بتقوى الله عزوجل , والسمع والطاعة وإن تأمر عليك عبد , فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً . فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهدين عضوا عليها بالنواجذ , وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالةوعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون , فقلنا يل رسول الله كأنها موعظة مودعٍ فأوصنا , قال – أوصيكم بتقوى الله عزوجل , والسمع والطاعة وإن تأمر عليك عبد , فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً . فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهدين عضوا عليها بالنواجذ , وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة

Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat” Rasulullah bersabda, “Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” [Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (4/126), Abu Dawud, no. 4607, At Tirmidziy, no. 2676 dan beliau mengatakan (hadits ini) hasan shahih, dan Ibnu Majah, no.44, Ad Darimiy, (1/44-45). Al Bazzaar berkata: Hadits ini Tsaabit Shahiih. Ibnu Abdil Barr berkata: (derajat) hadits ini seperti yang dikatakan oleh al Bazzaar, Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi, hal. 549.]

Berkata Ibnu Rajab: “Perkataan beliau صلى الله عليه و سلم : “كل بدعة ضلالة” –setiap bid’ah itu adalah kesesatan- merupakan jawami’ul kalim (satu kalimat yang ringkas namun mempunyai arti yang sangat luas -pent) yang meliputi segala sesuatu, kalimat itu merupakan salah satu dari pokok-pokok ajaran agama yang agung” [Jami’ul ‘ulum wal hikam, hal. 28)

Berkata Ibnu Hajar: “Perkataan beliau صلى الله عليه و سلم : “كل بدعة ضلالة” –setiap bid’ah itu adalah kesesatan-, merupakan suatu kaidah agama yang menyeluruh, baik itu secara tersurat maupun tersirat. Adapun secara tersurat, maka seakan-akan beliau bersabda: “Hal ini bid’ah hukumnya dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan”, sehingga ia tidak termasuk bagian dari agama ini, sebab agama ini seluruhnya merupakan petunjuk. Oleh karena itu maka apabila telah terbukti bahwa suatu hal tertentu hukumnya bid’ah, maka berlakulah dua dasar hukum itu (setiap bid’ah sesat dan setiap kesesatan bukan dari agama), sehingga kesimpulannya adalah tertolak.”. [Fathul Baariy, (13/254)

Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Sesungguhnya perkataan beliau صلى الله عليه و سلم : “كل بدعة” –setiap bid’ah-,  merupakan ungkapan yang bersifat umum dan menyeluruh, karena diperkokoh dengan kata yang menunjukkan makna menyeluruh dan umum yang paling kuat, yakni kata كل (setiap)” [Al Ibdaa’ Fii Kamaalisy Syari’i Wa Khatarul Ibdaa’, hal. 13]

Beliau berkata pula: “ Maka setiap apa saja yang diklaim sebagai bid’ah hasanah, maka hendaklah dijawab dengan dalil ini. Dan atas dasar inilah, maka tak ada sedikitpun peluang bagi ahlul bid’ah untuk menjadikan bid’ah mereka itu sebagai bid’ah hasanah. Karena ditangan kita terhunus pedang pamungkas yang berasal dari Rosululloh صلى الله عليه و سلم, yakni kalimat “كل بدعة ضلالة” –setiap bid’ah itu adalah kesesatan-“.

Sesungguhnya pedang pamungkas ini dibuat dalam “industri kenabian dan kerasulan”, bukan hasil ciptaan berbagai rumah produksi yang penuh kegoncangan, ia merupakan produk kenabian yang diciptakan secara optimal. Karena itulah tidak mungkin orang yang memiliki pedang pamungkas seperti ini akan mampu dihadapi oleh siapapun dengan suatu bid’ah yang dianggapnya sebagai bid’ah hasanah, padahal Rosululloh صلى الله عليه و سلم telah mengatakan: “كل بدعة ضلالة” –setiap bid’ah itu adalah kesesatan-. [Al Ibdaa’ Fii Kamaalisy Syari’i Wa Khatarul Ibdaa’]

4.    Dari ‘Aisyah رضي الله عنها berkata: Rosululloh صلى الله عليه و سلم bersabda:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak (Muttafaqun ‘Alaihi)

Asy Syaukaniy berkata: “Hadits ini merupakan salah satu dari kaidah-kaidah agama, sebab hadits ini mendasari hokum-hukum yang tiada terbatas. Dan betapa tegas hadits ini dan betapa jelas indikasinya terhadap kebathilan para fuqaha’ yang membagi bid’ah menjadi beberapa macam serta hanya menolak sebagian bid’ah saja tanpa ada dalil yang mengkhususkannya baik dalil aqly maupun dalil naqly”.

5.    Dari Abdullah bin ‘Ukaim bahwasanya ‘Umar رضي الله عنه berkata:

إن أصدق القيل قيل الله و إن أصدق الهدى هدى محمد و إن شر الأمور محدثاتها، ألا و إن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة و كل ضلالة فى النار

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah firman Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلى الله عليه و سلم dan sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama). Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat (dalam agama) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu (tempatnya dineraka). [Dikeluarkan oleh Ibnul Wudhah dalam al Bida’, hal. 31 dan al Laalikaa’iy, hadits no. 100 (1/84)

6.    Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata:

إتبعو و لا تبتدعوا فقد كفيتم و كل بدعة ضلالة

“Ber-ittiba’lah kamu kepada Rosululloh dan janganlah ber-ibtida’ (mengada-ada tanpa dalil), karena sesungguhnya agama ini telah dijadikan cukup buat kalian, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan” [Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibaanah, no. 175 (1/327-328) dan Al Laalikaa’iy, no. 104 (1/86)

7.    Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما berkata:

كل بدعة ضلالة و إن رأها الناس حسنة

“Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, sekalipun manusia menganggapnya hasanah (baik)” [Al Ibaanah, no. 205 (1/339) Al Laalikaa’iy, no. 126 (1/92)

[Disalin dari buku “Mengapa Anda Menolak Bid’ah Hasanah?” terbitan Pustaka At-Tibyan]

Iklan