Tahlilan sarana silaturahmi ?

7 Mei

Sebagian orang membolehkan tahlilan orang meninggal karena ia dianggap sebagai ajang silaturahmi antar sesama warga yang sangat jarang bertemu disebabkan kesibukan mereka masing-masing.

Jawaban atas pendapat ini adalah sebagai berikut:

Acara tahlilan memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal bukanlah merupakan bagian dari syariat Islam sama sekali. Buktinya, betapa banyak kaum muslimin yang meninggal pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم hidup, namun tidak ada satu riwayat yang shahih pun yang menerangkan bahwa beliau menyelenggarakan acara tersebut. Beliau juga tidak pernah mengajarkan para sahabat mengenai hal ini. Oleh karena itu, tidaklah boleh bagi kita untuk melakukan ritual ibadah yang tidak pernah dilakukan atau diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم karena hal tersebut dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Apabila kita ingin melakukan silaturahmi dengan masyarakat, maka Islam sendiri telah mengatur tata caranya, di antaranya adalah dengan mengucapkan salam bila bertemu, saling mengunjungi, menghadiri shalat berjamaah di mesjid, bergotong royong, menjenguk tetangga yang sakit, dan lain sebagainya. Masih banyak cara syar’i yang bisa kita tempuh, tanpa harus melakukan hal-hal yang dilarang di dalam Islam. Kalau memang tahlilan itu bermanfaat sebagai ajang silaturahmi dan baik di mata syariat, niscaya Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat pasti telah membuat tahlilan setiap ada yang meninggal.

Perlu diketahui, bahwasanya bukan hanya ibadah yang perlu mencocoki syariat, akan tetapi kebudayaan dan kebiasaan pun haruslah tidak boleh sampai menyelisihi syariat. Apabila kita menjumpai penyelisihan syariat di dalam suatu budaya atau kebiasaan maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya karena kita selaku hamba Allah dituntut untuk taat kepada hukum-Nya.

وبالله التوفيق
Iklan

3 Tanggapan to “Tahlilan sarana silaturahmi ?”

  1. muhammad 23/04/2014 pada 14:00 #

    dan tdk ada hadis Rasululloh melarag tahlilan, bukankan dalam tahlilan itu yg kita baca firman Alloh, ayat2 al-qur’an, coba sebutkan hadis yang melarang tahlilan

    • garibblog 12/09/2014 pada 00:20 #

      Dalam urusan ibadah itu bkn mencari dalil yng melarangnya, tapi cari dalil yng memerintahkannya, dalam ushul fiqih ada qaidah :

      الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

      Artinya :

      “Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

      Contoh ada orang shalat subuh 3 rakaat, kita larang kalo itu salah, trus dia katakan mana ada dalil yng melarang shalat subuh 3 rakaat. Tntu saja tidak ada dalil yng melarang shalat subuh 3 rakaat, tapi shalat subuh 3 rakaat tidak sesuai tuntunan, perintahnya tidak seperti itu

    • garibblog 12/11/2016 pada 22:43 #

      .
      “Mana dalil yang melarangnya ?”

      Perlu diketahui bahwa urusan IBADAH, yang di tanyakan bukan dalil yang melarangnya, tapi dalil yang memerintahkannya.

      Urusan DUNIA dan urusan IBADAH, adalah perkara yang berbeda, begitu pula qa’idahnya.

      Berikut ini, qa’idahnya masing-masing,

      1- Urusan DUNIAWI qa’idahnya :

      الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

      “Asalnya urusan DUNIAWI halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”.

      2- Urusan IBADAH qa’idahnya :

      الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

      “Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

      Kaidah-kaidah di atas perlu di pahami, sehingga tidak rancu memahami urusan DUNIA dan urusan IBADAH.

      Setelah kita memahami urusan DUNIAWI dan urusan IBADAH, dan qa’idahnya masing-masing. Maka sangat keliru kalau ada orang yang menanyakan dalil yang melarang dalam perkara ibadah.

      • HUKUM ASALNYA IBADAH

      Hukum asalnya ibadah adalah terlarang, haram dilakukan kecuali ada dalil yang memerintahkannya.

      Sebagaimana disebutkan dalam ilmu ushul fiqih ;

      الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

      “Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

      Ulama Syafi’i berkata :

      اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف

      “Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil)”.

      Perkata’an di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (5: 43).

      Ibnu Hajar adalah di antara ulama besar Syafi’i yang jadi rujukan. Perkata’an Ibnu Hajar tersebut menunjukkan bahwa jika tidak ada dalil, maka suatu amalan tidak boleh dilakukan. Itu artinya, asalnya ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan.

      Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata :

      أَنَّ التَّقْرِير فِي الْعِبَادَة إِنَّمَا يُؤْخَذ عَنْ تَوْقِيف

      “Penetapan ibadah diambil dari tawqif (adanya dalil)”. (Fathul Bari, 2: 80).

      Ibnu Daqiq Al ‘Ied, salah seorang ulama besar Syafi’i juga berkata :

      لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ

      “Umumnya ibadah adalah ta’abbud (beribadah pada Allah). Dan patokannya adalah dengan melihat dalil”.

      Kaedah ini disebutkan oleh beliau dalam kitab Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.

      Dalam buku ulama Syafi’iyah lainnya, yaitu kitab Ghoyatul Bayan Syarh Zubd Ibnu Ruslan disebutkan,

      الأصل في العبادات التوقيف

      “Hukum asal ibadah adalah tawqif (menunggu sampai adanya dalil)”.

      Dalam Al Adabu Asy Syar’iyah, Ibnu Muflih berkata :

      أَنَّ الْأَعْمَالَ الدِّينِيَّةَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُتَّخَذَ شَيْءٌ سَبَبًا إلَّا أَنْ تَكُونَ مَشْرُوعَةً فَإِنَّ الْعِبَادَاتِ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ

      “Sesungguhnya amal diniyah (amal ibadah) tidak boleh dijadikan sebagai sebab kecuali jika telah disyari’atkan karena standar ibadah boleh dilakukan sampai ada dalil”.

      Imam Ahmad dan para fuqoha ahli hadits, Imam Syafi’i termasuk di dalamnya berkata :

      إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ

      “Hukum asal ibadah adalah tauqif (menunggu sampai adanya dalil)”. (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 29: 17).

      Dari penjelasan para Ulama diatas, kita mendapatkan penjelasan bahwa Ibadah apapun bentuknya adalah terlarang / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya.

      Jadi sangat keliru, kalau ada orang yang berkata dalam perkara ibadah. Mana dalil yang melarangnya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: